Selasa, 04 Februari 2014

METODELOGI PENELITIAN »

METODELOGI PENELITIAN
A. Pengertian

Metotelogi berasal dari kata methodology artinya ilmu yang menerangkan metoda-metoda/caracara. Penelitian adalah terjemahan dari bangsa ingris “research” yang terdiri dari kata re (mengulang) dan search (pencarian, penelusuran dan penelitian), maka reseach dapat diartikan berulang melakukan pencarian. Sedangkan menurut kamus bahasa Indonesia dalam Irwan Soehartono (2000:1), penelitian berarti pemeriksaan yang teliti.

Jadi metodelogi penelitian adalah seperangkat pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis tentang pencarian data yang yang berkenaandengan masalah yang tertentu untuk diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan pemecahan masalahnya.

B. Sejarah Perkembangan Metodologi Penelitian

Hadi mengatakan dalam Wardi Bachtiar (1997:9) tampaknya para pakar metodologi penelitian sepakat dengan pendapat Fummel yang mengungkapkan bahwa sejarah perkembangan mencari kebenaran yang berlangsungdalam periode-periode pertama adalah trial error, priode kedua authority and tradition, priode ketiga speculation and argumentation, dan priode keempat hypopthesis and experimentation.

Pada priode trial and error, orang berupaya memecahkan masalah dengan teknik mencoba dan mencoba sehingga diperoleh jalan keluar dari masalah yang akan dipecahkan.

Pada priode authority and tradition orang berupaya menyelesaikan permasalahan dengan meminta nasihat atau pendapat para pemimpin atau tokoh masyarakat yang bertuah, pendapatnya meruoakan dokrin yang tidak boleh dibantah, dan diyakini benar pada saat itu.

Pada priode spekulation and argumentation orang berupaya mengandalkan akal dan lidah atau kemampuan berpikir dan berbicara menyampaikan argumentasi, yaitu dengan cara berkumpul dan berdiskusi untuk mencari kebenaran.

Pada priode hypotesis and exprimentation orang berupaya memecahkan masalah dengan dasar pemikiran bahwa satu gejala tidak lepas dari gejala lain.


C. Karakteristik Penelitian

Menurut Hamidi (2004:10-13), bahwa dalam melakukan penelitian hendaklah memperhatikan 6 karakteristik penelitian:
Penelitian harus Sistematis, dikarenakan proposal atau laporan merupakan suatu aktivitas yang terstruktur mengandung unsur-unsur yang merupakan butir-butir pemikiran dan aktivitas, dimana unsur-unsur tersebut harus diungkapkan secara runtut dan dilakukan secara bertahap dan beruntutan.
Penelitian harus Logis dan Rasional, dimana penelitian tersebut memiliki alur pikir yang benar dalam arti adanya kesesuaian antara instrumen.
Penelitian harus Empirik, yaitu penelitian harus mengungkapkan dengan dunia nyata yakni dunia yang dapat diobserpasi dengan indra.
Penelitian bersifat Reduktif, yakni penelitian dapat menghiulangkan keraguan menjadi kepastian dari ketidaktahuan menjadi jelas.
Penelitian bersifat Replicable dan transmitable, maksudnya adalah dapat diteliti ulang dan dipahami untuk dapat digunakan hasil penelitian.
Penelitian harus Memiliki Kegunaan, satu hal yang dibutuhkan sekali dalam penelitian adalah adanya pengungkapan tentang kegunaan suatu penelitian yang dilaporkan dalam proposal atau laporan penelitian.


D. Kategori Penelitian


Kategori penelitian dibagi dalam 6 bagian, yaitu:
Berdasarkan Esensi penelitian.

Dilihat dari hasilnya penelitian dapat digolongkan menjadsi 2:

a. Penelitian murni : penelitian yang menghasilkan teori-teori yang mempunyai tingkat abstraksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil penelitian terapan.

b. Penelitian terapan (applied) memiliki tingkat abstraksi yang rendah, lebih transparan, ketika memperlihatkan variabel atau konsep, sehingga mudah dipahami bahkan langsung dapat menunjukan datanya dengan definisi operasional.

Berdasarkan Tempat Penelitian

Jika dipandang dari tempatnya, penelitian dikelompokkan menjadi 3, yaitu:

a. Penelitian lapangan (field); penelitian lapangan kehidupan masyarakat, bertujuan menghimpun data atau informasi tentang masalah tertentu mengenai kehidupan masyarakat yang menjadi objek penelitian.

b. Penelitian laboratorium; dilakukan di kamar atau di tempat tertentu. Penelitian yang dilakukan seorang ahli kesehatan di ruangan laboratorium sebuah rmah sakit tau tempat lain yang dijadikan sebagai laboratorium untuk mencoba sebuah metode.

c. Penelitian perpustakaan; penelitian di dalam perpustakaan untuk mengetahui masalah keperpustakaan, atau kajian buku.
Berdasarkan Bidang Penelitian

Penelitian ini sesuai dengan bidang studi, seperti bidang penelitian ilmu sejarah, sosiologi, ekonomi, ilmu dakwah, tafsir, ilmu hadits, dan termasuk penelitian limu-ilmu kealaman dan humaniora lainnya.
Berdasar Tujuan

a. Penelitian eksplorasi; disebut penelitian pendahuluan karena belum menghimpun data yang lengkap dan dilakukan mendahului penelitian yang bertujuan menghimpun data lengkap dengan tujuan untuk mencari permasalahan dan data singkat yang berkaitan dengan masalah tersebut.

b. Develovmental; penelitian pengembangan teori-teori atau pengembangan ilmu.

c. Verifikasi; penelitian yang bertujuan untuk memeriksa, apakah teori yang ada masih relevan dengan kehidupan sosial.

Berdasar Taraf Hasil Penelitian


Penelitian berdasar taraf hasil penelitian dapat dikategorikan menjadi:


a. Hasil penelitian deskriptif; berupa laporan apa adanya tentang sesuatu yang aktual tanpa terdapar analisis dari peneliti.


b. Hasil penelitian inferensial; merupakan laporan deskriptif yang memuat analisis hubungan variabel-variabel, seperti pada penelitian pendekatan sosiologis, dimana data dikelompokkan dalam kantong-kantong yang tiap kantong mendukungan variabel tertentu. Lalu tiap kantong dianalisis hubungan masing-masing.




Jenis Penelitian Lainnya


Jenis penelitian lainnya adalah sebagai berikut:


a. Penelitian eksperimen; dilakukan dengan percobaan-percobaan terhadap objek.


b. Penelitian kasus; meneliti permasalahan atau keadaan tertentu.


c. Penelitian survei; bermaksud menghubung-hubungkan banyak konsep atau variabel dari objek penelitian yang luas.


E. Syarat-Syarat Penelitian

Untuk melaksanakan suatu penelitian, hendaknya mengedepankan syarat-syarat penelitian. Menurut Parsudi Suparlan, bahwa ada 4 hal yang menjadi persyaratan untuk melakukan penelitian, yaitu:

1. Prosedur penelitianharus terbuka untuk diperiksa oleh peneliti lain, karena itu dalam setiap laporan hasil penelitian selalu disebutkan metode apa yang selalu digunakan dan bagaimana menggunakan metode tersebut.

2. Definisi-definisi yang dibuat adalah benar dan berdasarkan atas konsep-konsep dan teori-teori yang digunakan dan referensi atau kerangka acuannya.

3. Pengumpulan data dilakukan secara objektif, yaitu dengan menggunakan metode-metode atau metode-metode penelitian ilmiah yang baku.

4. Hasil-hasil penenmuannya akan ditemukan ulang oleh peneliti lainnya, bila sasaran atau masalah penelitiannya sama dan pendekatan serta prosedur penelitiannya juga sama. (Hamid Patilima, 2005:10)
Readmore»

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS »


PENINGKATAN CARA BELAJAR SISWA MELALUI SISTEM MODULAR
PADA MATA PELAJARAN KEWIRAUSAHAAN
KELAS X JURUSAN AKUNTANSI  DAN TATA BUSANA

A. Pendahuuan
1.      Latar Belakang Masalah
Kegiatan Belajar di sekolah adalah rangkaian kegiatan dari sebuah system yang memerlukan perlengkapan antara lain Kepala Sekolah, Staf Tata Usaha, Guru, Siswa maupun sarana prasarana lainnya. Salah satu hal yang penting dalam memudahkan kegiatan belajar mengajar adalah buku buku pegangan untuk siswa. Materi kewirausahaan di SMK sering mengalami perubahan seiring dengan perubahan kurikulum yang ada.Pada saat ini di SMK diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) yang menuntut siswa untuk belajar secara aktif dan mandiri, dimana peranan guru ditempatkan sebagai sarana motivator atau pembimbing maju dan berkembangnya pola belajar mengajar di dalam kelas.
Oleh karena itu sangat penting bagi siswa untuk memiliki buku panduan belajar atau modul, dalam hal ini khususnya adalah modul kewirausahaan. Masalah yang timbul sekarang adalah apakah buku pegangan siswa sesuai dengan tuntutan kurkulum atau belum, adanya masalah tersebut maka saya sebagai guru kewirausahaan yang menginginkan peserta didiknya maju dan berkembang sesuai dengan tuntutan kurikulum telah menyusun modul kewirausahaan melalui wadah Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( MGMP ).Pendidikan Kabupaten Cilacap..Melalui penelitian tindakan kelas yang akan saya lakukan.Saya sebagai guru kewirausahaan ingin menguji apakah modul yang menjadi pegangan siswa mampu memenuhi tuntutan kurikulum SMK tahun 2006 serta mampu menghasilkan peserta didik yang bertanggung jawab, mampu berfikir kritis, mampu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

CONTOH PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
2. Perumusan dan Pemecahan Masalah
Salah satu penunjang kegiatan belajar mengajar di kelas adalah adanya modul. Diharapkan rasio antara siswa dengan modul adalah satu banding satu. Jadi diharapkan tiap peserta didik SMK Makmur 1 Cilacap memiliki 1 modul yang disusun sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) 2006, khsusnya adalah modul Kewirausahaan yang disusun oleh MGMP Kabupaten Cilacap.
Masalah :
1.      Apakah modul Kewirausahaan yang diterbitkan oleh MGMP mudah diperoleh oleh peserta didik.
2.      Apakah modul Kewirausahaan mudah dipahami oleh peserta didik.
3.      Apakah modul Kewirausahaan tersebut mampu mendorong guru untuk memotivasi peserta didik melakukan kegiatan belajar mengajar secara aktif.
Dari tiga masalah tersebut diatas, maka saya akan mengambil contoh data siswa kelas X jurusan Akuntansi dan Tata Busana pada tahun pelajaran 2009/2010 menggunakan modul Kewirausahaan yang disusun oleh MGMP Kabupaten Cilacap. Pengamatan dimulai setelah peserta didik memperoleh modul pada tiap kelasnya dengan data awal yaitu hasil Ulangan Semester 1 yang diikuti dengan perubahan sikap. Hasil refleksi dari siklus 1 akan dibandingkan dengan hasil pengamatan pada hasil Ulangan Semester 2 yang diharapkan meningkat setelah melalui beberapa perbaikan melalui perencanaan tahap kedua.
3. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan tuntutan Kurikulum SMK yang mengarah pada learning by doing, yaitu praktek belajar kewirausahaan sebagai inovasi pembelajaran untuk memahami afeksi dan kognitif secara mendalam melalui pengalaman belajar dengan life skill ( kecakapan hidup ). Pengalaman belajar kewirausahaan dapat dilaksanakan di dalam maupun di luar kelas dengan metode CTI (contextual theaching learning). Dengan b erbagai metode dan strategi yang diterapkan diharapkan mampu mendorong peserta didik agar dapat berpartisipasi seecara aktif sebagai warga negara yang bertanggung jawab, mampu berpikir keras, mampu memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, belajar secara kooperatif sehingga dapat tercipta suasana belajar yang menyenangkan dan penuh makna.
Dari tuntutan kurikulum di atas maka saya berharap mampu mewujudkan upaya penigkatan mutu peserta didikmelalui Penelitian Tindakan Kelas dengan judul “Peningkatan Cara Belajar Siswa Melalui Sistem Modular Pada Mata Pelajaran Kewirausahaan Siswa Kelas X Jurusan Akuntansi, dan Tata Busana Tahun Pelajaran 2009/2010 SMK Makmur 1 Cilacap”
4. Manfaat Penelitian
Melalui Penelitian Tindakan Kelas ini saya berharap dapat menyumbangkan pemikiran guna meningkatkan kualitas pembelajaran siswa pada SMK Makmur 1 Cilacap jurusan Akuntansi,  dan Tata Busana khususnya kelas X. Mudah mudahan Penelitian Tindakan Kelas yang saya lakukan dapat bermanfaat bagi guru, siswa maupun komponen yang terkait dalam pendidikan, baik pada masa sekarang maupun masa yang akan dating.
B. Kajian Pustaka
Upaya untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas sangat penting untuk dilakukan dalam upaya untuk meningkatkan profesionalisme guru khususnya dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, karena pada dasarnya Penelitian Tindakan Kelas dapat dilakukan secara sederhana dan dapat dilakukan oleh guru pada saat mengajar dengan objek penelitian yang tersedia yaitu peserta didik yang diampu oleh guru tersebut.
Karena upaya Penelitian Tindakan Kelas dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas belajar siswa, maka dapat langsung dikaitkan dengan mata pelajaran yang diampu oleh guru tersebut dalam rangka membentuk proses pembelajaran khususnya dalam hal ini pelajaran Kewirausahaan.
Namun demikian bahwa Penelitian Tindakan Kelas harus mengandung suatu pengertian bahwa tindakan yang dilakukan didasarkan atas upaya meningkatkan hasil yaitu pembelajaran kewirausahaan yang semakin meningkat.
Selain itu dengan melihat hasil Penelitain Tindakan Kelas yang telah dilakukan sebebelumnya dapat dilihat hasilnya yaitu semakin meningkatnya kualitas lulusan, terutama untuk tingkat SMK sehingga siswa tersebut lebih bertanggung jawab lebih profesional dalam memasuki dunia industri di Indonesia pada khususnya maupun di negara lain yang menjadi tujuannya.Disamping itu saat ini lebih banyak lagi siswa yang melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi, karena memliki optimisme yang lebih besar serta memiliki wawasan yang lebih luas.
C. Metodologi Penelitian
Siklus I
Perencanaan :
Identifikasi masalah dan penerapan alternative pemecahan masalah












Tindakan





Pengamatan





Refleksi
Ø Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam pembelajaran kewirausahaan
Ø Menentukan pokok bahasan
Ø Mengembangkan skenario pembelajaran kewirausahaan
Ø Menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran
Ø Menyiapkan sumber belajar
Ø Mengembangkan format evaluasi
Ø Mengembangkan format observasi pembelajaran
Ø Menerapkan tindakan yang mengacu pada skenario dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran

Ø Melakukan observasi dengan alat observasi
Ø Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format langkah-langkah pembelajaran

Ø Melakukan evaluasi tindakan yang telah dilakukan yang meliputi evaluasi mutu, jumlah dan waktu dari setiap tindakan
Ø Melakukan pertemuan untuk membahas hasil evaluasi tentang skenario, langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan lain-lain
Ø Memperbaiki pelaksanaan tindakan yang sesuai dengan hasil evaluasi untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Ø Evaluasi tindakan I
Siklus II
Perencanaan



Tindakan

Pengamatan

Refleksi
Ø Identifikasi masalah dan penetapan alternative memecahan masalah
Ø Pengembangan tindakan II

Ø Pelaksanaan program tindakan II

Ø Pengumpulan data tindakan II

Ø Evaluasi tindakan II

Siklus-siklus berikutnya

Kesimpulan, saran, rekomendasi.
D. Jadwal Pelaksanaan
No
Rencana Kegiatan
Waktu ( Bulan ke …)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
Persiapan
Menyusun konsep pelaksanaan
Menyepakati jadwal dan tugas
Menyusun Instrumen
Seminar Konsep Pelaksanaan

X

X
X
X











2
Pelaksanaan
Menyiapkan kelas dan alat
Melakukan tindakan siklus I
Melakukan tindakan siklus II


X
X


X


X


X







X




X




X




X


3
Penyusunan Laporan
Menyusun konsep seminar
Seminar hasil penelitian
Perbaikan Laporan
Penggadaan dan Pengiriman
Hasil






X






X

X





X

E. Daftar Pustaka
Suharsini Arikunta Prof.Dkk “Penelitian Tindakan Kelas” Bumi Aksara Bandung 2008.

Ariwibowo, Drs.M.Pd. “Pokok – Pokok Materi Tindakan Kelas”
Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Tahun 2008

Ating Tedjasutisna, Dr. H, “ Kewirausahaan SMK Kelas 1 “
Penerbit Armico Bandung Tahun 2004.

Readmore»

Senin, 20 Januari 2014

MAKALAH Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt »

Kitab-kitab allah
BAB I 

PENDAHULUAN 

A. Alasan Memilih Judul 

Makalah ini berjudul “Iman Kepada KitabKitab Allah Swt”. Adapun yang menjadi masalah penulis dalam memilih judul ini adalah sudah ditentukan oleh Guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. 

B. Rumusan Masalah 

Sebagaimana kita ketahui, Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt berarti menyakini adanya kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul dan Nabi untuk disampaikan kepada Umat Manusia. Maka dari itu kita harus wajib berpedoman kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Swt kepada nabi dan rasul-Nya supaya untuk mendapatakan kebahagiaan di dunia maupun diakhirat. Oleh karena itu di dalam pembahasan Makalah ini penulis hanya akan membahas masalah “Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt”. 

C. Tujuan Pembuatan Makalah 

Adapun yang menjadi tujuan dari pada pembuatan makalah yaitu sebagai berikut : 

1. Sebagai bahan bukti bahwa kita wajib percaya kepada kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi dan Rasulnya untuk umatnya di dunia. 

2. Untuk menambah wawasan dan mengetahui betapa wajibnya kita percaya kepada kitab-kitab Allah. 

D. Metode Penulisan 

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah melalui pendekatan keperpustakaan sebagai upaya pemantapan naskah penulis makalah. 

E. Sistematika Penulisan 

Adapun sistematika yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah : 

Kata Pengantar Yang memuat ucapan terima kasih kepada pihak yang telah memberi motivasi 

Daftar isi Yang meliputi rangkuman pokok bahasan yang diuraikan dalam makalah ini. 

Bab I Pendahuluan yang menguraikan latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, tujuan pembuatan makalah, pembahasan masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan 

Bab II Studi tentang Iman kepada Kitab-kitab Allah Swt yang meliputi : Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT, Macam-macam Kitab Allah, Kitab dan Suhuf, Fungsi Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt, Perilaku orang yang beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt, dan Cara beriman kepada Kitab-Kitab Allah. 

Bab III Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran. 

BAB II 

IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH SWT. 

Iman kepada kitab-kitab Allah SWT. Adalah mengakui, mempercayai dan meyakini bahwa Allah SWT telah menurunkan kitab kepada para nabi dan Rasul-Nya yang berisi ajaran Allah SWT. Untuk di sampaikan kepada umatnya masing-masing. Mengimani kitab Allah SWT, wajib hukumnya. Mengingkari salah satu kitab Allah SWT sama saja mengingkari seluruh kitab-kitab Allah SWT dan mengingkari para Rasul-Nya, malaikat dan mengingkari Allah SWT sendiri. 

A. Pengertian Iman Kepada Kitab-Kitab Allah SWT 

Pengertian iman menurut bahasa adalah percaya dan membenarkan.Iman menurut istilah adalah kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati,diucapkan dengan lisan,dan diamalkan dengan perbuatan. 

Pengertian iman kepada kitab-kitab Allah adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa kitab-kitab Allah itu benar-benar wahyu yang diturunkan-Nya kepada para Rasul, tidak diragukan kebenarannya isinya agar menjadi pedoman hidup bagi umatnya. 

Iman kepada kitab-kitab Allah termasuk dalam rukun iman yang ke tiga.Dengan demikian orang yang tidak mengimani kitab-kitab Allah tidak dapat dikatakan sebagai orang yang beriman, bahkan bisa dikatakan murtad. 

Firman Allah swt :
 

 

Artinya : 

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah : 213) 



Ayat di atas mengandung penjelasan sebagai berikut : 

1. Allah telah benar-benar menurunkan kitab-kitab kepada para nabi. 

2. Dengan kitab-kitab itu Allah memberi kabar gembira dan peringatan 

3. Tujuan diturunkannya kitab-kitab agar menjadi petunjuk dan pedoman hidup. 


B. Macam-macam Kitab Allah 

Menurut bahasa, kata kitab memiliki dua pengertian, pertama berarti perintah. Kedua berarti tulisan di atas kertas. Yang dimaksud kitab Allah adalah wahyu yang diturunkan kepada para nabi dan rasul berisi pedoman hidup bagi umatnya dan telah dibukukan. 

Kitab-kitab Allah yang wajib kita imani ada empat, yaitu : 

1. Kitab taurat, diturunkan kepada Nabi Musa As sebagai pedoman dan petunjuk bagi Bani Israil. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt : 

 

Artinya : 

“Dan Kami berikan kepada Musa kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku,” (QS. Al-Israa’ : 2) 

2. Kitab Zabur, diturunkan kepada Nabi Daud As untuk disampaikan dan dijadikan sebagai pedoman hidup bagi umat Yahudi. Firman Allah : 

 

Artinya : 

“.... dan Kami berikan Zabur kepada Nabi Daud” (QS> Al-Israa’ : 55) 

3. Kitab Injil, diturunkan kepada Nabi Isa As sebagai petunjuk dan tuntunan bagi Bani Israil. Allah berfirman : 

 

Artinya : 

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al-Maidah : 46) 

4. Kitab Al-Qur’an, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, untuk dijadikan petunjuk dan pedoman bagi seluruh umat manusia, bukan hanya bangsa Arab. Allah berfirman : 

 

Artinya : 

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Qs. Yusuf : 2) 



Al-Qur’an sebagai kitab suci terakhir isinya meliputi seluruh kitab-kitab terdahulu dan melengkapi aturan-aturan yang belum ada. Pada dasarnya kitab-kitab Allah itu mengandung ajaran-ajaran yang sama, yaitu tentang tauhid atau mengesakan Allah. 


C. Kitab dan Suhuf 

Yang dimaksud kitab ialah kumulan firman Allah Swt yang diwahyukan kepada rasul-Nya. Wahyu itu dicatat dalam lembaran-lebaran kertas. Lembaran-lembaran itu kemudian disatukan menjado ancaman buku besar dan disusun secara sistematis sesuai petunjuk rasul sendiri. Kumpulan lembaran-lembaran ang sudah berwujud buku itu lazimnya disebut sebagai kitab. 

Kitab yang diturunkan Allah Swt ada empat. Keempat kitab Allah Swt itu adalah Taurat, zabur, injil dan Al-Qur’an. Kitab-kitab itu memiliki kesamaan dan perbedaan. Persamaannya ialah semua kitab itu menganjurkan keesaan Allah Swt. Sehingga agama-agama sebelum islam lahir dikenal dengan sebutan agama tauhid, yakni agama yang mengajarkan tentang keesaan Allah Swt. Perbedaannya terletak pada sifatnya. Kitab-kitab sebelum al-qur’an bersifat local dan ajaran-ajarannya sederhana, sedangkan Al-Qur’an bersifat universal dan abadi sepanjang masa serta lebih luas ajarannya. 

Adapun yang dimaksud suhuf adalah lembaran-lembaran yang berisi kumpulan wahyu Allah Swt. Yang diberikan kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia. Dengan demikian, juga kita bandingkan dengan kitab, suhuf relatif lebih sedikit dari pada kitab. Beberapa suhuf dikumpulkan sehingga menjadio sebuah kitab. 

Allah Swt berfirman sebagai berikut : 

 

Artinya : 

“Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (QS. Al-A’laa : 18-19) 



D. Fungsi Iman Kepada Kitab-Kitab Allah Swt. 

Fungsi iman kepada Kitab-kitab Allah Swt adalah sebagai petunjuk hidup. Manusia hidup di dunia memerlukan petunjuk agar hidupnya terarah. Petunjuk yang diperlukan harus mempunyai kualitas yang tinggi melebihi petunjuk yang dapat membimbing manusia kearah tujuan hidup hanyalah kitab suci yang telah diwahyukan Allah Swt kepada para rasul-Nya. 

Di dalam Surat Az-Zirat ayat 56 ditegaskan bahwa jin dan manusia diciptakan oleh Allah Swt tidak lain hanyalah agar menghambakan diri kepada-Nya. Sementara itu, di dalam Surat Al-Baqarah ayat 30 dinyatakan oleh Allah Swt bahwa manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di dunia dalam rangka menghambakan diri kepada-Nya. 

Kehidupan manusia di bumi tidak lepas dari permasalahan yang sulit dipecahkan. Permasalahan hidup kian bertambah banyak sehingga manusia sering lupa dari tugas hidupnya sebagai hamba Allah Swt. Yang harus selalu menghambakan diri kepada-Nya. 



E. Perilaku orang yang beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt. 

Perilaku orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah Swt adalah sebagai berikut : 

1. Memiliki rasa hormat dan menghargai kitab suci sebagai kitab yang memiliki kedudukan di atas segala kitab yang lain. 

2. Berusaha menjaga kesucian kitab suci dan membelanya apabila ada pihak lain yang meremehkannya. 

3. Mau mempelajari dengan sungguh-sungguh petunjuk yang ada di dalam, baik dengan membaca sendiri maupun menhadiri majlis taklim. 

4. Berusaha untuk mengamalkan petunjuk-petunjuknya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki 

5. Berusaha untuk menyebarluaskan petunjuk-petunjuknya kepada orang lain, baik di lingkungan keluarga sendirimaupun masyarakat 

6. Berusaha untuk memperbaiki bacaannya dengan mempelajari ilmu tajwid. 

7. Tunduk kepada hukum yang ada di dalam kitab suci dalam menyelesaikan suatu permasalahan. 


F. Cara beriman kepada Kitab-Kitab Allah 

Beriman kepada kitab-kitab Allah ada dua cara, yaitu : 

1. Beriman kepada kitab-kitab sebelum Al-Qur’an 

a. Meyakini bahwa kitab-kitab itu benar-benar wahyu Allah, bukan karangan para rasul 

b. Meyakini kebenaran isinya 

2. Beriman kepada Al-Qur’an 

a. Meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar-benar wahyu Allah bukan karangan Nabi Muhammad Saw 

b. Meyakini bahwa isi Al-Qur’an dijamin kebenarannya, tanpa ada keraguan sedikitpun 

c. Mempelajari, memahami, dan menghayati isi kandungan Al-Qur’an 

d. Mengamalkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. 



Perbedaan cara beriman kepada kitab-kitab Allah selain Al-Qur’an dan kepada Al-Qur’an sendiri disebabkan : 

1. Masa berlakunya kitab-kitab sebelum Al-Qur’an sudah selesai 

2. Kitab-kitab sebelum Al-Qur’an terlalu terbatas pada satu umat saja 

3. Kandungan pokok dari kitab-kitab sebelum Al-Quran telah termuat dalam Al-Qur’an 












BAB III 

PENUTUP 





A. Kesimpulan 

Dari uraian di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan diantaranya sebagai berikut : 

1. Kebersihan dan kesucian dari najis kita sucikan dengan mandi, wudhu dan bertayamum 

2. Dengan mandi dapat menghilangkan kotoran – kotoran yang melekat pada tubuh manusia 

3. Bersuci mendidik menusia berakhlak, sebab kebiasaan hidup akan mendorong seseorang menjauhi hal-hal yang menimbulkan perbuatan kotor. 



B. Saran 

Dari sumber yang diperoleh akhirnya penulis ingin menyampaikan saran kepada pembaca bila akan menyampaikan : 

1. Kita harus memahami sumber terlebih dahulu agar saat menyampaikan tidak akan keliru 

2. Saat menyampaikan kita harus tahu banyak tentang bersuci dalam ajaran islam. 

Readmore»

MAKALAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK “ PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI »

BAB I
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 

Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Ciri-ciri perktumbuhan dan perkembangan anak antara lain, menimbulkan perubahan, berkolerasi dengan pertumbuhan, memiliki tahap yang berurutan dan mempunyai pola yang tetap.Perkembangan tersebut meliputi perkembangan Fisik,Intelektual,Bahasa,Sosial-Emosional.Seorang anak pada usia dini dari hari ke hari akan mengalami perkembangan,perkembangan tersebut berlangsung secara cepat dan sangat berpengaruh terhadap perkembangannya selanjutnya.Namun tentunya tiap anak tidak sama persis pencapaiannya, ada yang benar-benar cepat berkembang ada pula yang membutuhkan waktu agak lama.Tidak semua anak usia dini mengalami perkembangan secara normal,banyak kendala/permasalahan di dalam perkembangannya yang di sebabkan oleh beberapa faktor. 

B. Rumusan Masalah 

Dari latar belakang tersebut, dalam makalah ini kami dapat merumuskan menjadi
beberapa rumusan masalah, yaitu : 

1.Pengertian anak usia dini secara umum. 

2. Tahap perkembangan anak usia dini bahasa secara umum.
3. Permasalahan di dalam perkembangan anak usia dini. 
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan. 

C. Tujuan 

1. Mengetahui Jenis –jenis perkembangan anak usia dini. 

2. Mengetahui tahap perkembangan anak usia dini. 

3. Mengetahui Permasalahan dalam perkembangan anak usia dini. 

4. Mengetahui sebab munculnya perkembangan anak usia dini. 

5. Mengetahui faktor-faktor perkembangan anak usia dini. 

BAB II 
PEMBAHASAN 
1. Permasalahan Perkembangan Fisik Anak Usia Dini 
A. Pengertian Anak Usia Dini 
Anak usia dini merupakan anak yang berada pada usia 0-6 tahun.. Usia dini merupakan usia yang sangat penting bagi perkembangan anak sehingga disebut golden age. Anak Usia Dini sedang dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat, baik fisik maupun mental. Anak Usia Dini belajar dengan caranya sendiri. Bila ditinjau dari hakikat anak usia dini, maka anak memiliki dua aspek perkembangan yaitu biologis dan psikologis. Pada anak usia dini terjadi perkembangan otak sebagai pusat kecerdasan terjadi sangat pesat. Selain itu, organ sensoris seperti pendengar, penglihatan, penciuman, pengecap, perabaan, dan organ keseimbangan juga berkembang pesat (Black,J. et all, 1995:Gesell, A.L. &Ames, F.1940) 

B. Perkembangan Kemampuan Fisik 

Pada usia ini anak menunjukkan keingintahuan yang besar dan aktif. Dia bisa mengatur gerakan badannya dengan lebih baik dan lebih luwes. Anak juga bisa berjalan jinjit mundur dan berjalan mundur dengan tumitnya. Dia juga bisa berlari dengan cepat, meloncat, berlari dengan satu kaki. Anak pada sia ini sudah bisa mencuci tanganya sendiri tanpa membasahi bajunya, berpakaian dan mengikat tali sepatunya sendiri. Koordinasi motorik yang baik berkembnag smapai si anak dapat mencontoh segitiga dan belah ketupat. Mereka mulai dapat menulus beberapa huruf dan angka dan menuliskan namanya dengan benar. Anak juga dapat menggambar benda hidup. 

C. Penyebab Anak Cacat Fisik 

1. Peristiwa kelahiran 

Di negara sedang berkembang, penyebab cacat mental yang utama adalah kerusakan pada otak saat kelahiran. Kehamilan yang tidak di control, bimbingan persalinan yang tidak tepat, bantuan persalinan salah, fasilitas persalinan yang kurang memadai banyak mengakibatkan kerusakan pada otak anak. 

1. Infeksi 

Anak menderita infeksi yang merusak otak seperti meningitis, encephalitistu berkulosis, dan lain-lain. Sekitar 30%-50% dari mereka yang mengalami kerusakan otak akibat penyakit-penyakit tersebut menderita deficit neorologikdan cacat mental 

2. Malnutrisi berat 
Kekurangan makanan bergizi semasa bayi dapat mengganggu partumbuhan dan fungsi susunan syaraf pusat. Malnutrisi ini kebanyakan terjadi pada kelompok ekonomi lemah. 

3. Kekurangan yodium 

Kekurangan yodium dapat mempengaruhi perkembangan mental anak, termasuk salah satu penyebab cacat mental. Untuk mengenal anak cacat mental secara dini, beberapa gejala ini dapat dijadikan indicator. 

4. Terlambat memberi reaksi 

Gejala-gejala ini dapat diamati pada saat minggu-minggu pertama kehidupan anak. Antara lain; lambat memberi senyum jika anak diajak tertawa atau digelitik. Anak tidak memperhatikan atau seolah-olah tidak melihat jika dirangsang dengan gerakan tangan kita. Bagi anak yang sehat, bola matanya akan mengikuti gerakan tangan kita. Bagi anak yang sehat, bola matanya akan mengikuti gerakan tangan tersebut kekiri atau kekanan. Begitu juga terhadap bunyi-bunyian, anak yang sehat akan tersentak, terkejut, membesarkan bola mata, dan berusaha mencari suara tersebut. Sebaliknya anak cacat mental akan terlambat bereaksi terhadap bunyi-bunyian, seolah-olah tergantung pendengarannya. Anak cacat mental juga lambat mengunyah makanan, sehingga ia seringkali mengalami gangguan. 

5. Memandang tangannya sediri 

Bayi yang berusia antara 12-20 minggu bila berbaring sering memperhatikan gerakan tangannya sendiri. Pada anak cacat mental gejala ini masih terlihat walaupun usianya sudah lebih tua dari 20 minggu. 

6. Memasukkan benda ke mulut 
Kegiatan memasukkan benda ke dalam mulut merupakan aktifitas yang khas untuk anak usia 6- 12 bulan. Anak cacat mental masih suka memasukkan benda atau mainan ke dalam mulutnya walaupun usianya sudah mencapai 2 atau 3 tahun. 

7. Kurang perhatian dan kurang konsentrasi 

Anak cacat mental kurang memperhatikan lingkungan sekitar. Perhatiannya terhadap mainan hanya berlangsung singkat saja. Malahan seringkali tidak mengacuhkan kejadian-kejadian di sekelilingnya. Bila diberi mainan, ia kurang tertarik dan tidak berusaha untuk mengambilnya. 

2. Permasalahan Perkembangan Intelektual Anak Usia Dini 

Masalah-masalah kebutuhan perkembangan pada anak usia dini merupakan kebutuhan yang harus/mutlak terpenuhi sesuai dengan perkembangan, maka bagi pendidik anak usia dini harus paham akan kebutuhan perkembangan anak usia dini sehingga dapat menangani masalah-masalah yang timbul, baik masalah pemenuhan kebutuhan perkembangan yang umum ataupun masalah kebutuhan perkembangan yang bersifat khusus. 

Usia dini merupakan masa yang paling baik untuk meletakan dasar yang kokoh bagi perkembangan mental - emosional dan potensi otak anak yang akan mempengaruhi kejiwaan anak. Teori dan penelitian Daniel Goleman tentang kecerdasan emosi (Emotional Intelligence/EQ), mengingatkan bahwa keberhasilan hidup manusia tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan intelektual (IQ) seperti yang dipahami sebelumnya, tetapi justru ditentukan oleh emotional intelligence. Kecerdasan emosi ini sangat terkait dengan belahan otak kanan. 

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa: 

Keberhasilan seseorang di masyarakat sebagian besar (80%) ditentukan oleh kecerdasan emosi(EQ).Sehingga anak yang kurang dalam pemenuhan kebutuhan perkembangan emosi senantiasa akan mengalami gangguan emosi dan perilaku seperti, agresif secara verbal dan/atau fisik yang bisa membahayakan dirinya atau orang lain, menarik diri atau tidak percaya diri, pencemas dan juga bisa hiperaktif, yang mengakibatkan kurang perhatian dalam kegiatan disekolah secara optimal dan selalu menunjukan skala rendah dalam pencapaian program pembelajaran yang telah ditargetkan 

.Perkembangan emosi yang dibutuhkan anak usia dini meliputi segala bentuk hubungan yang erat, hangat dan menimbulkan rasa aman serta percaya diri sebagai dasar dari perkembangan selanjutnya, yang ini mutlak perlu diperhatikan oleh orang tua ataupun guru sejak dini 

Penanganan dan menganalisis kebutuhan emosi anak usia dini diperlukan deteksi dini yang serius dan tuntas dan harus didukung oleh informasi dan pengumpulan data yang akurat dan lengkap dari berbagai pihak mengenai diri anak mulai dari kandungan, setelah dilahirkan sampai anak memasuki Pendidikan Anak Usia Dini serta pada pengaturan yang diterapkan kepada anak oleh orang tua. Apabila masalah perkembangan emosi pada anak kurang diperhatikan atau tidak dipenuhi dan tidak segera ditangani maka akan berakibat vital terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak, baik tingkat kecerdasan (IQ), kecerdasan emosional (EQ), serta kecerdasan spiritual (SQ). 

Tujuan dari analisis gangguan perkembangan anak pada usia dini adalah untuk mengetahui karakteristik, gejala-gejala yang menyebabkan timbulnya gangguan/kelainan untuk memperkirakan kemungkinan bantuan yang akan diberikan serta melaksanakan tindak lanjut agar anak dapat diantisipasi supaya masa yang akan datang tidak selalu fatal. 

A. Anak Cacat Mental 

Anak cacat mental adalah mereka yang kecerdasannya jelas berada di bawah rata-rata. Di samping itu mereka mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Mereka kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak, yang sulit-sulit, dan yang berbelit-belit. Mereka kurang atau terbelakang atau tidak berhasil bukan untuk sehari dua hari atau sebulan atau dua bulan, tetapi untuk selama-lamanya, dan bukan hanya dalam satu dua hal tetapi hamper segala-galanya, lebih-lebih dalam pelajaran seperti mengarang, menyimpulkan isi bacaaan, menggunakan simbol-simbol, berhitung, dan dalam semua pelajaran yang bersifat teoritis. Dan juga mereka kurang/terhambat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. 

Anak cacat mental banyak macamnya, ada yang disertai dengan buta warna, disertai dengan kerdil badan, disertai dengan berkepala panjang, disertai dengan bau badan tertentu dan sebagainya; tetapi ada pula yang tidak disertai apa-apa. Mereka semua mempunyai persamaan yaitu kurang cerdas dan terhambat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Mereka mempunyai ciri-ciri khas dan tingkat cacat mental yang berbeda-beda, ada yang ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Terdapat perbedaan antara cacat mental dengan sakit mental, sakit jiwa, atau sakit ingatan. Dalam bahasa Inggris sakit mental disebut mental illness yaitu merupakan kegagalan dalam membina kepribadian dan tingkah laku. Sedangkan cacat mental dalam bahasa Inggris disebut mentally retarded atau mental retardation merupakan ketidakmampuan memecahkan persoalan disebabkan karena kecerdasan (inteligensinya) kurang berkembang serta kemampuan adaptasi perilakunya terhambat. Hal ini yang membedakan cacat mental dengan sakit jiwa ialah: Cacat mental bermula dan berkembang pada masa perkembangan, yaitu sejak anak lahir sampai kira-kira usia 18 tahun. Sedangkan sakit jiwa dapat menyerang setiap saat, kapan saja. Namun sekalipun sakit jiwa dan cacat mental berbeda, tidak mustahil anak cacat mental menderita sakit jiwa. 

Dari berbagai definisi, ungkapan pengertian dan penjelasan yang telah diuraikan di atas maka jelaslah bahwa untuk menentukan seseorang termasuk kategori cacat mental, selain kemampuan kecerdasannya atau tingkat inteligensinya jelas-jelas berada di bawah normal perlu pula diperhatikan kemampuaan penyesuaiannya (adaptasi tingkah laku) terhadap lingkungan sosial dimana ia berada. Selanjutnya perlu diperhatikan tentang waktu terjadinya cacat mental itu. Bila cacat mental terjadi setelah masa perkembangan (setelah usia 18 tahun) maka ia tidak tergolong cacat mental. 

B. Klasifikasi Anak Cacat Mental 

Pengelompokan pada umumnya berdasarkan pada tarafintelegensinya, yang terdiri dari terbelakang ringan, dan berat. Pengelompokan seperti ini sebenarnya bersifat artificial karena ketiga kelompok di atas tidak dibatasi oleh garis demargasi yang tajam. Gradasi dari satu level ke level berikutnya bersifat kontinyu. 

Kemampuan inteligensi anak cacat mental kebanyakan diukur dengan tes Stanford Binet dan Skala Weschler (WISC). 

1. Cacat Mental Ringan 

Cacat mental ringan disebut juga debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut Skala Weschler (WISC) memiliki IQ 69-55. Mereka masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Namun pada umumnya anak cacat mental ringan tidak mampu melakukan penyesuaian social secara independen dan anak ini tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal pada umumnya. Oleh karena itu agak sukar membedakan secara fisik antara anak cacat mental dengan anak normal. 

2. Cacat Mental Sedang 

Anak cacat mental sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 berdasarkan skala Binet sedangkan menurut Skala Wsechler memiliki IQ 54- 40. Anak cacat mental sedang masih memperoleh kecakapan komunikasi selama masa anak usia dini. Walaupun agak lambat. Anak dapat mengurus atau merawat diri sendiri dengan pelatihan yang intensif. Mereka dapat memperoleh manfaat latihan kecakapan social dan pekerjaan namun tidak dapat menguasai kemampuan akademik seperti; membaca, menulis, dan berhitung. Akan tetapi mereka masih dapat bepergian di lingkungan yang sudah dikenalnya. 

3. Cacat Mental Berat 

Kelompok anak cacat mental berat disebut juga idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi antara anak cacat mental berat dan sangat berat. Cacat mental berat (severe) memiliki IQ antara 32-20menurut skala Binet dan antara 39-25 menurut Skala Wechsler (WISC) Anak cacat mental sangat berat (profound) memiliki IQ dibawah 19 menurut Skala Binet dan IQ dibawah 24 menurut skala Wechsler (WISC). Anak cacat mental berat memerlukan bantuan perawatan secara total dalam hal berpakaian, mandi, makan, dll. Hampir semua anak cacat mental berat dan sangat berat menyandang cacat ganda. Umpamanya sebagai tambahan cacat mental tersebut si anak lumpuh (karena cacat otak) , tuli atau cacat lainnya. 



C. Karakteristik Anak Cacat Mental 



1. Karakteristik Anak Cacat Mental Ringan 

Anak cacat mental ringan banyak yang lancer berbicara tetapi kurang pembendaharaan kata-katanya. Mereka mengalami kesukaran berfikir abstrak, tetapi mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik baik di sekolah biasa maupun di sekolah khusus. Sebagaimana tertulis dalam The New American Webster (1956:301) bahwa: “Moron (debile) is a person whose mentality does not develop beyond the 12 year old level”. Maksudnya, kecerdasan berfikir seseorang cacat mental ringan paling tinggi sama dengan kecerdasan anak normal usia 12 tahun. 

2. Karakteristik Anak Cacat Mental Sedang 

Anak cacat mental sedang hamper tidak bisa mempelajari pelajaran-pelajaran akademik. Mereka pada umumnya belajar secara membeo. Perkembangan bahasanya lebih terbatas daripada anak cacat mental ringan. Mereka hamper selalu bergantung pada perlindungan orang lain, tetapi dapat membedakan bahaya dan yang bukan bahaya. Mereka masih mempunyai potensi untuk belajar memelihara diri dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan dapat mempelajari beberapa pekerjaan yang mempunyai arti ekonomi. Pada umur dewasa mereka baru mencapai kecerdasan yang sama dengan anak umur 7 atau 8 tahun. 

3. Karakteristik Anak Cacat Mental Berat 

Anak cacat mental berat dan sangat berat sepanjang hidupnya akan slalu tergantung pada pertolongan dan bantuan orang lain. Mereka tidak dapat memelihara diri sendiri. Pada umumnya mereka tidak dapat membedakan mana yang berbahaya dan yang tidak berbahaya, tidak mungkin berpartisifasi dengan lingkungan di sekitarnya, dan jika sedang berbicara maka kat-kata ucapannya sangat sederhana. Kecerdasan seorang anak cacat mental berat dan sangat berat hanya dapat berkembang paling tinggi seperti anak normal yang berumur 3 atau 4 tahun. 

Sunaryo Kartadinata (1998/1999) mengatakan karakteristik anak cacat mental antara lain (1) Keterbatasan inteligensi, (2) Keterbatasan social dengan ciri-ciri ; cenderung berteman dengan anak yang lebih muda, ketergantungan terhadap orang tua, tidak mampu memikul tanggung jawab. (3) Keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya seperti; kurang mampu mempertimbangkan sesuatu, kurang mampu membedakan yang baik dengan yang buruk, yang benar dan yang salah, tidak membayangkan terlebih dahulukonsekuensi suatu perbuatan. 

Guru TK mengenali anak keterbelakangan mental melalui berbagai aktifitas selama kegiatan, bermain, bercerita, makan, di kelas maupun di halaman sekolah atau bagaimana cara ia berinteraksi dengan anak lain, guru, atau orang di sekitarnya. Begitu juga interaksinya dengan lingkungan alam, alat permainannya, dan rangsangan lain yang ada di sekitarnya. 





3. Permasalahan Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini 

Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan manusia karena bahasa merupakan alat komunikasi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bahasa, seorang dapat menyampaikan ide, pikiran, perasaan kepada orang lain, baik secara lisan atau secra tertulis. 

Tidak menutup kemungkinan akan ditemukan anak usia dini yang mengalami kesulitan dalam berbahasa, tidak mampu memahami bahasa lisan, tidak mampu mengutarakan isi hati dengan kaimat, berbicara tidak jelas, gagap, dsbnya. Terkait masalah di atas berikut ini penulis mencoba membahas tentang perkembangan bahasa pada anak usia dini.Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa bahasa merupakan alat yang penting untuk berkomunikasi bagi setiap orang. Seorang anak akan mengembangkan kemampuan bergaul (social skill) dengan orang lain. Penguasaan keterampilan bergaul dalam lingkungan sosial dimulai dengan penguasaan kemampuan berbahasa. Tanpa bahasa seseorang tidak akan dapat berkomunikasi dengan orang lain. Anak dapat mengekspresikan pikirannya menggunakan bahasa, sehingga orang lain dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh anak. 

a. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa 

Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik Dalam bukunya “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” Syamsu Yusuf mengatakan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh 5 faktor, yaitu: faktor kesehatan, intelegensi, statsus sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga. 

Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu: 

1. Kognisi (Proses memperoleh pengetahuan ) 

Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang. 

2. Pola komunikasi dalam keluarga 

Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya. 

3. Jumlah keluarga 

Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti. 

4. Posisi urutan kelahiran 

Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja. 

5. Kedwibahasaan (Pemakaian dua bahasa) 

Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia. 

A. Faktor yang mempengaruhi masalah bahasa pada anak 

Menurut Syamsu Yusuf (2004) faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa anak adalah kesehatan, intelegensi, status sosial ekonomi, jenis kelamin, dan hubungan keluarga. 

1. Faktor kesehatan. 

Kesehatan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, terutama pada usia awal kehidupannya. Apabila anak pada usia dua tahun pertama sering mengalami sakit-sakitan maka anak tersebut cenderung akan mengalami keterlambatan atau kesulitan dalam perkembangan bahasa. 

2. Intelegensi. 

Perkembangan bahasa anak dapat dilihat dari tingkat intelegensinya, anak yang perkembangan bahasanya cepat, pada umumnya mempunyai intelegensi normal atau di atas normal. 

3. Status sosial ekonomi keluarga. 

Beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang berasal dari keluarga miskin mengalami kelambatan dalam perkembangan bahasanya dibanding dengan anak yang berasal dari keluarga yang lebih baik status ekonominya, hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan kecerdasan atau kesemoatan belajar (keluarga miskin diduga kurang memperhatikan perkembangan bahasa anaknya), atau kedua-duanya. 

4. Jenis kelamin 

Pada tahun pertama tidak ada perbedaan vokalisasi antara wanita dan pria, tetapi pada usia dua tahun anak perempuan menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dari anak laki-laki. 

5. Hubungan keluarga. 

Hubungan yang sehat antara orang tua dengan anak (penuh perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya) memfasilitasi perkembangan bahasa anak, dan begitu sebalikya hubungan yang tidak sehat bisa menyebabkan perkembangan bahasa anak cenderung akan mengalami stagnasi atau kelainan, seperti gagap dalam berbicara, tidak jelas dalam mengungkapkan kata-kata, merasa takut untuk mengungkapkan pendapat, dan berkata yang kasar atau tidak sopan. 





B. Keterlambatan dan bahaya (gangguan) di dalam perkembangan bicara pada anak. 

Apabila tingkat perkembangan bicara berada dibawah tingkat kualitas perkembangan bicara anak yang umumnya sama yang dapat diketahui dari ketepatan penggunaan di dalam kosa kata (bahasa) anak tersebut pada saat bersama teman sebayanya bercakap-cakap/berbicara menggunakan kata-kata terus dianggap muda diajak bermain dengan kata-kata. Keterlambatan berbicara tidak hanya mempengaruhi penyesuaian akademis dan pribadi anak pengaruh yang paling serius adalah terhadap kemampuan membaca pada awal anak masuk sekolah. Banyak penyebab keterlambatan bicara pada anak umumnya adalah rendahnya tingkat kecerdasan yang membuat anak tidak mungkin belajar berbicara sama baiknya seperti teman-teman sebayanya, yang kecerdasannya normal atau tinggi kurang motivasi karena anak mengetahui bahwa mereka dapat berkomunikasi secara memadai dengan bentuk prabicara dorongan orang tua/orang dewasa, terbatasnya kesempatan praktek berbicara karena ketatnya batasan tentang seberapa banyak mereka diperbolehkan berbicara dirumah. 

Salah satu penyebab tidak diragukan lagi paling umum dan paling serius adalah ketidakmampuan mendorong/memotivasi anak berbicara, bahkan pada saat anak mulai berceloteh. Apabila anak tidak diberikan rangsangan (stimulasi) didorong untuk berceloteh, hal ini akan menghambat penggunaan didalam berbahasa/kosa kata yang baik dan benar.
Kekurangan dorongan tersebut merupakan penyebab serius keterlambatan berbicara anak terlihat dari fakta bahwa apabila orang tua tidak hanya berbicara kepada anak mereka tetapi juga menggunakan kosa kata yang lebih luas dan bervariasi, adapun kemampuan anak didalam berbicara yang berkembang sangat pesat dan cepat yaitu contohnya : anak-anak dari golongan yang lebih atau menengah yang orang tuanya ingin sekali menyuruh mereka (anak) belajar berbicara lebih awal (cepat) dan lebih baik. Sangat kurang kemungkinannya mengalami keterlambatan berbicara pada anak. Sedangkan anak yang berasal dari golongan yang lebih rendah yang orang tuanya tidak mampu memberikan dorongan tersebut bagi mereka, apakah kekurangan waktu/karena mereka tidak menyadari betapa pentingnya suatu perkembangan bicara pada anak didik tersebut. 

Gangguan/bahaya didalam perkembangan bicara pada anak yaitu :
1. Kelemahan didalam berbicara (berbahasa) kosa kata 

2. Lamban mengembangkan suatu bahasa/didalam berbicara 

3. Sering kali berbicara yang tidak teratur 

4. Tidak konsentrasi didalam menerima suatu kata (bahasa) dari orang tua/guru. 

Kesalahan yang umum didalam pengucapan/bahasa (berbicara) pada anak yaitu : 

1. Menghilangkan satu suku kata/lebih biasanya terletak ditengah-tengah kata contohnya : “buttfly” padahal “butterfly”. 

2. Mengganti huruf / suku kata seperti “ tolly ” padahal “ Dolly ”, “handakerchief” padahal “handkerchief”. 

3. Menghilangkan huruf mati yang sulit untuk diucapkan oleh anak contohnya : z,w,s,d, dan g 

4. Huruf-huruf hidup khususnya O yang paling sulit dikatakan anak (diucapkan)
5. Singkatan gabungan huruf mati yang sulit diucapkan oleh anak contohnya : “st, sk, dr, fl, str”. 



C. Perkembangan berbicara merupakan suatu proses yang sangat sulit dan rumit. Terdapat beberapa kendala yang sering kali dialami oleh anak, antara lain: 



1. Anak cengeng. 

Anak yang sering kali menangis dengan berlebihan dapat menimbulkan gangguan pada fisik maupun psikis anak. Dari segi fisik, gangguan tersebut dapai berupa kurangnya energi sehingga secara otomatis dapat menyebabkan kondisi anak tidak fit. Sedangkan gangguan psikis yang muncul adalah perasaan ditolak atau tidak dicintai oleh orang tuanya, atau anggota kcluarga lain. Sedangkan rcaksi sosial tcrhadap tangisan anak biasanya bernada negatif. Oleh karena itu pcranan orang tua sangat penting untuk menanggulangi hal tersebut, salah satu cara untuk mengajarkan komunikasi yang efektif bagi anak. 

2. Anak sulit memahami isi pembicaraan orang lain. 

Sering kali anak tidak dapat memahami isi pembicaraan orang tua atau anggota keluarga lain. Hal ini disebabkan kurangnya perbendaharaan kata pada anak. Di samping itu juga dikarenakan orang tua sering kali berbicara sangat cepat dengan mempergunakan kata-kata yang belum dikenal oleh .anak. Bagi keluarga yang mcnggunakan dua bahasa (bilingual) anak akan. lebih banyak mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan orang tuanya atau saudaranya yang tinggal dalam satu rumah. Orang tua hendaknya selalu berusaha mencari penyebab kesulitan anak dalam memahami pembicaraan tersebut agar dapat memperbaiki atau membetulkan apabila anak kurang mengerti dan bahkan salah mengintepretasikan suatu pembicaraan. 



a. Bahasa anak dapat berkembang cepat, jika : 



1. Anak berada di dalam lingkungan yang positif dan bebas dari tekanan. 

Lingkungan yang kaya bahasa akan menstimulasi perkembangan bahasa anak. Stimulasi tersebut akan optimal jika anak tidak merasa tertekan. Anak yang tertekan dapat menghambat kemampuan bicaranya. Dapat ditemukan anak gagap yang disebabkan karena tekanan dari lingkungannya. 

2. Menunjukkan sikap dan minat yang tulus pada anak. 

Anak usia dini emosinya masih kuat. Karena itu pendidik harus menunjukkan minat dan perhatian tinggi kepada anak. Orang dewasa perlu merespon anak dengan tulus. 

3. Menyampaikan pesan verbal diikuti dengan pesan non verbal. 

Dalam bercakap-cakap dengan anak, orang dewasa perlu menunjukkan ekspresi yang sesuai dengan ucapannya. Perlu diikuti gerakan, mimik muka, dan intonasi yang sesuai.Misalnya : orang dewasa berkata,”saya senang” maka perlu dikatakan dengan ekspresi muka senang, sehingga anak mengetahui seperti apa kata senang itu sesungguhnya. 

4. Melibatkan anak dalam komunikasi. 

Orang dewasa perlu melibatkan anak untuk ikut membangun komunikasi. Kita menghargai ide-idenya dan memberikan respon yang baik terhadap bahasa anak. 





4. Perkembangan Sosial-Emosional Anak Usia Dini 

Dalam periode pra sekolah, anak mampu mengembangkan diri dengan berbagai orang dari berbagai tatanan, yaitu keluarga, sekolah dan teman sebaya. Perkembangan sosial biasanya dimaksudkan, sebagai perkembangan tingkah laku anak dalam menyesuaikan diri dengan aturan- aturan yang berlaku di dalam masyarakat dimana anak berada. 

Perkembangan sosial diperoleh dari kematangan dan kesempatan belajar dari berbagai respon lingkungan terhadap anak, pada usia dua tahun anak- anak mulai memantapkan identitas dirinya dan selalu ingin menunjukan kemauan dan kemampuannya dengan berbagai pertanyaan. Tidak jarang pada saat tersebut anak- anak dinilai sebagai anak keras kepala. 

Di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik fisik dan mental, dengan karakteristik sebagai berikut: 

a. Berkembangnya konsep diri, secara perlahan pemahamannya tentang kehidupan berkembang. Anak mulai menyadari bahwa dirinya, identitasnya karena kesadarannya itu menunjukan “Akunya” (eksitensi diri). Segalanya ingin ia coba, ia merasa dirinya bisa. 

b. Munculnya egosentris, diusia ini anak berfikir bahwa segala yang ada dan tersedia adalah untuk dirinya, semuanya ada untuk memenuhi kebutuhannya. Kuatnya egosentris ini mempengaruhi perilaku anak dalam bermain, saat bermain anak enggan untuk meminjamkan mainannya pada anak lain juga menolak mengembalikan mainan pinjamannya. Wajarlah jika saat seperti ini terjadi konflik dengan temannya. Pada saat mengalami konflik ini anak belum bisa menyelesaikannya secara efektif, ia cenderung menghindar dan menyalahkan orang lain. 

c. Rasa ingin tahu yang tinggi, rasa ingin tahu meliputi berbagai hal termasuk seksual sehingga ia selalu bereksplorasi dalam apapun dimanapun. 

d. Imajinasi yang tinggi, imajinasi yang tinggi di usia ini sangat mendominasi setiap perilakunya, sehingga anak sulit membedakan mana khayalan mana kenyataan. Ia kadang suka melebih- lebihkan cerita. Daya imajinasi ini biasanya melahirkan teman imajiner (teman yang tidak pernah ada), teman khayalan ini mampu mencurahkan segala pengalaman dan perasaannya. 

e. Belajar menimbang rasa, Diusia 4 tahun minat meniru terhadap teman- temannya mulai berkembang, anak mulai bisa terlibat dalam permainan kelompok bersama teman- temannya walaupun kerap terjadi pertengkaran. Hal ini karena ia masih memikirkan dirinya sendiri. Empati anak mulai berkembang, ia mulai merasakan apa yang sedang orang lain rasakan. Jika melihat ibunya bersedih ia akan mendekati, memeluk dan membawa sesuatu yang dapat menghibur. pada masa ini anak mulai belajar konsep benar salah. 

f. Munculnya control internal, Kontrol internal muncul di akhir masa usia pra sekolah, perasaan malu mulai muncul ia akan merasa malu dan bersalah jika ia melakukan perbuatan yang salah. Dengan demikian tepatnya diusia 5 tahun ia sudah siap terjun kelingkungan di luar rumah dan sudah sanggup menyesuaikan diri dengan standar perilaku yang di harapkan. 

g. Belajar dari lingkungan, Anak mulai meniru apa yang sering dilakukannya ia belajar mengidentifikasi dirinya dengan model yang dilihatnya misalnya ia akan berperilaku sama persis seperti apa yang di lihatnya di TV dan ia pun akan bercita- cita sama seperti profesi orang tuanya. Jadi di usia ini lingkunganlah yang sangat berperan dalam membentuk perilakunya. 

h. Berkembangnya cara berfikir, Anak mulai mengembangkan pemahamannya tentang hubungan benda antara bagian dan keseluruhan. Pemahaman konsep waktu belum berkembang sempurna anak belum bisa membedakan antara tadi pagi dan kemarin sore. 

i. Berkembangnya kemampuan berbahasa, dibidang masa sebelumnya anak lebih bisa diajak berkomunikasi, ia mulai mengungkapkan keinginannya dengan bahasa verbal, namun kadang- kadang ia ingin bereksperimen dengan kata- kata yang kotor atau yang mengejutkan orang tuanya. 

Readmore»
Berlangganan FEED via email

Blog Stats

Copyright  © File Skripsi - All Right Reserved. | Theme designed by File Skripsi