Minggu, 09 Januari 2011

PENDAPATAN NASIONAL PETA KONSEP

A. Konsep-Konsep dalam Pendapatan Nasional
1. Produk Domestik Bruto
Produk domestik bruto (gross domestik product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor.

2. Produk Nasional Bruto
Produk nasional bruto (gross national product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.


3. Produk Nasional Neto (net national product)
Produk nasional neto adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan yang disebut juga replacement dari barang modal.

4. Pendapatan Nasional Neto
Pendapatan nasional neto (net national income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dan lain-lain.

5. Pendapatan Perseorangan
Pendapatan perseorangan (personal income) adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja).

6. Pendapatan yang siap dibelanjakan
Pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan.
Salah satu indikator ekonomi makro yang biasanya digunakan untuk mengevaluasi hasil-hasil pembangunan di suatu daerah dalam lingkup kabupaten dan kota adalah produk domestik regional bruto (PDRB). Produk domestik regional bruto (PDRB) adalah jumlah nilai tambah atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah dalam satu tahun tertentu.
PDRB merupakan total pendapatan yang berasal dari suatu daerah. Akan tetapi, pendapatan yang dimaksud tidak seluruhnya menjadi pendapatan dari penduduk atau pemilik faktor produksi yang tinggal di daerah tersebut, sebab ada sebagian pendapatan yang diterima penduduk daerah lain. Misalnya perusahaan yang modalnya dimiliki oleh orang luar daerah, maka dengan sendirinya keuntungan perusahaan itu sebagian menjadi milik orang luar daerah tersebut.
PDRB dihitung berdasarkan 2 cara, yakni:
a. Berdasarkan harga berlaku
PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai-nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tersebut.
b. Berdasarkan harga konstan
PDRB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun dasar yang di Indonesia ditetapkan tahun 1993.
Komponen-komponen yang yang ikut serta dalam perhitungan PDRB sama dengan komponen yang ada pada perhitungan pendapatan nasional, perbedaannya hanya terletak pada wilayah perhitungannya. Kalau pendapatan nasional mencakup wilayah nasional secara keseluruhan sedangkan PDRB mencakup wilayah kabupaten dan kota.
Angka produk nasional bruto atau pendapatan nasional (Y) adalah hasil kegiatan ekonomi seluruh negara selama satu tahun. Akan tetapi, angka PNB tersebut masih kurang sempurna apabila dipakai sebagai tolak ukur taraf hidup atau tingkat kemakmuran suatu negara. Kekurangannya antara lain banyak kegiatan produktif tidak dimasukkan ke dalam perhitumgan, misalnya pekerjaan para ibu rumah tangga yang jelas merupakan kegiatan produktf, tetapi tidak ikut dihitung dalam nilai PNB.
Berdasarkan kekurangan tersebut, kita tidak tahu berapa jumlah manusia yang ikut menghasilkan PNB. Tidak diketahui pula banyaknya manusia yang harus hidup dari PNB itu. Oleh karena itu ukuran yang secara internasional dipakai untuk mengukur taraf hidup serta membandingkan dengan negara-negara lain yaitu PNB per kapita atau pendapatan per kapita.
Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut.

B. Metode Perhitungan Pendapatan Nasional








Konsep pendapatan nasional pertama kali dicetuskan oleh Sir William Petty dari Inggris yang berusaha menaksir pendapatan nasional negaranya (Inggris) pada tahun 1665. Dalam perhitungannya, ia menggunakan anggapan bahwa pendapatan nasional merupakan penjumlahan biaya hidup (konsumsi) selama setahun. Namun, pendapat tersebut tidak disepakati oleh para ahli ekonomi modern, sebab menurut pandangan ilmu ekonomi modern, konsumsi bukanlah satu-satunya unsur dalam perhitungan pendapatan nasional. Menurut mereka, alat utama sebagai pengukur kegiatan perekonomian adalah produk nasional bruto (gross national Product), yaitu seluruh jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tiap tahun oleh negara yang bersangkutan diukur menurut harga pasar pada suatu negara.
Pendapatan nasional dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
1. Pendekatan pendapatan
Dalam pendekatan pendapatan, pendapatan nasional didefinisikan sebagai seluruh penerimaan yang diterima oleh para pemilik faktor produksi dalam suatu negara selama satu tahun. Adapun bentuk-bentuk balas jasa dari proses produksi sebagai berikut :
a) Balas jasa bagi tenaga kerja adalah upah atau gaji.
b) Tanah dan harta tetap lainnya memperoleh sewa.
c) Modal memperoleh bunga.
d) Kewirausahaan memperoleh keuntungan atau laba.
Secara matematis penghitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan dapat dirumuskan :


Keterangan:
NI = National income (pendapatan nasional)
W = Wages (upah kerja)
R = Rent (sewa)
I = Interest (bunga modal)
Pt = Profit (laba pengusaha)
2. Pendekatan produksi
Pendapatan nasional dapat dihitung dengan menjumlahkan produksi barang dan jasa selama satu tahun yang dihasilkan oleh seluruh sektor ekonomi dalam masyarakat yang diukur dengan uang. Contohnya, penjumlahan pada sektor pertanian yang dibagi menjadi subsektor-subsektor sebagai berikut:
a. Tanaman bahan makanan
b. Tanaman perkebunan
c. Peternakan dan hasil-hasilnya
d. Hasil kehutanan
e. Hasil perikanan
Secara sistematis penghitungan pendapatan nasional dengan metode produksi dapat dirumuskan :



Keterangan :
Y = Pendapatan nasional
Q1,2,n = Jenis barang ke-1,2,n
P1,2,n = Harga barang ke-1,2,n

Volume produksi dihitung menurut sektor usaha dan dinilai dalam uang (Rp) menurut harga berlaku. Hasil totalnya disebut produk domestik bruto (PDB).
Penggunaan cara menghitung dengan menjumlahkan nilai tambah yang dihasilkan oleh berbagai sektor dalam perekonomian mempunyai dua tujuan sebagai berikut :
1) Mengetahui besarnya sumbangan berbagai sektor ekonomi dalam menghitung pendapatan nasional.
2) Merupakan salah satu cara untuk menghindari penghitungan dua kali atau berkali-kali, karena yang dihitung hanya nilai produk neto pada berbagai tahap proses produksi.
Bentuk transaksi-transaksi lain yang tidak dimasukkan ke dalam perhitungan pendapatan nasional adalah sebagai berikut:
a) Pembayaran transfer atau pindahan adalah pemindahan sejumlah uang tanpa disertai produksi. Misalnya, pembayaran pensiun, subsidi, undian, bunga atau utang negara, hadiah, warisan dan pembayaran untuk barang-barang yang dibuat pada tahun-tahun sebelumnya.
b) Kenaikan dan penurunan nilai barang-barang modal,karena inflasi atau depresi yang disebut capital gains dan capital losses.
c) Kegiatan-kegiatan illegal, seperti penyelundupan barang-barang dagangan, produksi ganja dan heroin, dan perbuatan-perbuatan yang terlarang lainnya.
d) Kegiatan-kegiatan yang karena alasan praktis tidak dihitung, misalnya jasa ibu rumah tangga yang mencuci pakaian, memasak, dan membersihkan rumah.





3. Pendekatan pengeluaran
Dalam pendekatan pengeluaran, pendapatan nasional dapat didefinisikan sebagai penjumlahan dari semua pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga ekonomi dalam suatu negara selama satu tahun. Adapun komponen-komponen pengeluaran dalam perekonomian sebagai berikut :
a. Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga
Nilai belanja atau pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga untuk membeli berbagai jenis kebutuhan dalam satu tahun tertentu disebut pengeluaran konsumsi rumah tangga yang bisa dilambangkan dengan huruf C (consumption). Akan tetapi, tidak semua transaksi yang dilakukan oleh rumah tangga digolongkan sebagai konsumsi, melainkan dilakukan juga untuk investasi (i). contohnya ibu rumah tangga membeli kebutuhan pokok untuk dikonsumsi oleh keluarga.
b. Pengeluaran Pemerintah
Pemerintah membeli barang terutama untuk kepentingan masyarakat, misalnya pengeluaran untuk menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan, membayar gaji pegawai pemerintah, dan pengeluaran untuk mengembangkan sarana dan prasarana. Semua pengeluaran pemerintah dilambangkan dengan huruf G (government expenditure). Akan tetapi ada pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah yang tidak termasuk dalam government expenditure, melainkan pembayaran transfer (transfer payment) seperti : memberikan beasiswa dan bantuan untuk korban bencana alam.
c. Investasi
Investasi (investment) adalah pengeluaran untuk membeli barang modal yang dapat menaikkan produksi barang dan jasa pada masa yang akan datang. Contoh : membeli mesin, peralatan produksi, dan mendirikan pabrik.
Investasi dibedakan atas tiga jenis pengeluaran sebagai berikut :
1) Pengeluaran untuk barang-barang modal dan peralatan produksi.
2) Perubahan-perubahan dalam nilai investor pada akhir tahun.
3) Pengeluaran-pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal.



d. Ekspor Neto
Ekspor neto (X-M) adalah nilai ekspor (X = ekspor) yang dilakukan oleh suatu negara dalam tahun tertentu dikurangi nilai impor (M = impor) dalam priode yang sama.
Secara matematis penghitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran dapat dirumuskan :

Keterangan :
Y = Pendapatan nasional
C = Consumtion (Pengeluaran konsumsi rumah tangga)
I = Investment (Pembentukan modal sektor swasta )
G = Government Expenditure (Pengeluaran pemerintah)
X = Ekspor
M = Impor

C. Manfaat Penghitungan Pendapatan Nasional
Selain bertujuan untuk mengukur tingkat kemakmuran suatu negara dan untuk mendapatkan data-data terperinci mengenai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara selama satu periode, perhitungan pendapatan nasional juga memiliki manfaat-manfaat lain, diantaranya untuk mengetahui dan menelaah struktur perekonomian nasional. Data pendapatan nasional dapat digunakan untuk menggolongkan suatu negara menjadi negara industri, pertanian, atau negara jasa. Contohnya, berdasarkan pehitungan pendapatan nasional dapat diketahui bahwa Indonesia termasuk negara pertanian atau agraris, Jepang merupakan negara industri, Singapura termasuk negara yang unggul di sektor jasa, dan sebagainya.
Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional, misalnya sektor pertanian, pertambangan, industri, perdaganan, jasa, dan sebagainya. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.

D. Perbandingan PDB Indonesia dan dunia
PDB negara yang berbeda dapat dibandingkan dengan menukar nilainya dalam mata uang lokal menurut:
1. nilai tukar mata uang saat ini: PDB dihitung sesuai dengan nilai tukar yang sedang digunakan dalam pasar mata uang internasional,
2. nilai tukar keseimbangan kemampuan berbelanja: PDB dihitung sesuai keseimbangan kemampuan berbelanja (PPP) setiap mata uang relatif kepada standar yang telah ditentukan (BISAanya dolar AS)
Total PDB Indonesia


1998 1998 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
95,446
140,001
150,196
141,255
172,975
208,311
256,00
284,072

364,239
420,00
471,26
558,84
589,01

Dalam era globalisasi saat ini keterkaitan ekonomi di satu negara dengan negara yang lain.semakin erat seiring dengan meningkatnya hubungan perdagangan dan arus modal lintas negara. Perkembangan dan kondisi perekonomian global memiliki dampak yang semakin signifikan terhadap kondisi perekonomian domestik. Di tahun 2008, perkembangan perekonomian global telah dibayang-bayangi oleh ancaman krisis ekonomi global yang bersumber dari gejolak finansial di Amerika Serikat pada tahun 2007. Eratnya keterkaitan antar pasar keuangan dan ekonomi antar negara telah mendorong terjadinya perluasan gejolak perekonomian Amerika Serikat ke berbagai negara lainnya, terutama ke negara-negara maju. Perluasan dampak tersebut antara lain terlihat pada jatuhnya indeks saham pasar modal di berbagai negara, mengetatnya likuiditas di pasar global, serta merosotnya volume perdagangan dunia.
Besarnya tekanan ekonomi pada tahun 2008 yang terjadi di dunia tampak pada penurunan laju pertumbuhan ekonomi baik di negara-negara industri maju maupun berkembang. Secara umum laju pertumbuhan ekonomi di berbagai negara menunjukkan tren menurun dari awal triwulan I hingga triwulan IV tahun 2008. Tekanan terberat di tahun tersebut pada umumnya terjadi pada triwulan IV dimana banyak negara mengalami laju pertumbuhan negatif. Dampak penurunan laju pertumbuhan ekonomi pada awalnya terjadi di negara-negara maju dan kemudian meluas ke negara-negara berkembang. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh besarnya peran pasar negara-negara maju terhadap produk-produk ekspor Negara berkembang, serta arus modal dan investasi negara maju ke negara-negara berkembang.
Pada triwulan I tahun 2008 mencatat laju pertumbuhan ekonomi sebesar 2,54 persen. Pada triwulan-triwulan berikutnya, laju pertumbuhan tersebut menurun hingga mencapai minus 0,85 persen pada triwulan IV tahun 2008. Hal yang serupa terjadi di negara-negara maju di kawasan Eropa. Laju pertumbuhan ekonomi di Inggris, Jerman, dan Perancis, yang pada triwulan I tahun 2008 masing-masing sebesar 2,48 persen, 2,84 persen dan 0,4 persen terus menurun di triwulan-triwulan selanjutnya hingga masing-masing mencapai minus 1,61 persen, minus 1,65 persen dan minus 1,50 persen pada triwulan IV tahun 2008. Bahkan perekonomian Perancis telah mencatat laju pertumbuhan negatif sejak triwulan II tahun 2008.
Hal serupa terjadi pada Jepang dan Korea Selatan yang mengalami penurunan laju pertumbuhan sepanjang tahun 2008 dan mengalami pertumbuhan negatif di triwulan IV tahun 2008. Bahkan perekonomian Jepang telah mencatat laju pertumbuhan negatif sejak triwulan III tahun 2008. Pada triwulan IV tahun 2008, Jepang dan Korea Selatan masing-masing mengalami laju pertumbuhan sebesar minus 4,28 persen dan minus 3,40 persen.
Penurunan laju pertumbuhan ekonomi juga dialami oleh negara-negara berkembang, termasuk di kawasan Asia. China dan India, yang merupakan dua negara berkembang dengan kinerja ekonomi paling baik di Asia juga mengalami penurunan pertumbuhan, walaupun tidak mencapai laju pertumbuhan negatif di triwulan IV tahun 2008. Di kawasan Asia Tenggara, penurunan laju pertumbuhan juga dialami oleh negara-negara ASEAN dengan kecepatan yang berbeda. Di antara lima negara utama ASEAN, penurunan pertumbuhan selama tahun 2008 terlihat jelas pada perekonomian Singapura, diikuti oleh Thailand dan Malaysia. Pertumbuhan ekonomi Singapura yang pada triwulan I tahun 2008mencapai 6,70 persen menurun hingga mendekati 0,04 persen pada triwulan III dan kemudian mencapai minus 4,23 persen pada triwulan IV tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 6,0 persen pada triwulan I, melambat pada triwulan-triwulan berikutnya hingga mencapai pertumbuhan minus 4,25 persen pada triwulan IV. Negara-negara ASEAN lainnya, yaitu Malaysia, Philipina, dan Indonesia juga mengalami pola perlambatan yang sama, walaupun tidak mencapai pertumbuhan negatif pada triwulan terakhir tahun 2008.
Pada triwulan IV tahun 2008, laju pertumbuhan ekonomi Malaysia mencapai 0,08 persen, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Philipina masih lebih baik yaitu masingmasing mencapai 5,18 persen dan 4,51 persen. Dari pola yang ada, secara umum dapat diduga bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi terutama terjadi pada negara-negara dengan peran ekspor cukup besar dalam perekonomian nasionalnya. Negara-negara dengan karakteristik tersebut mengalami pukulan terberat akibat penurunan kinerja ekspor yang disebabkan oleh melemahnya permintaan (demand) darinegara-negara maju. Walaupun telah terjadi pertumbuhan ekonomi negatif di berbagai negara pada triwulan IV, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi global masih cukup baik di mana belum terjadi pertumbuhan negatif di sepanjang tahun 2008. Di antara negara-negara maju, penurunan laju pertumbuhan terbesar di alami oleh Inggris, Jepang dan Perancis dimana laju pertumbuhan ekonomi mereka mengalami penyusutan hampir sepertiga dari pertumbuhan tahun 2007. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, penurunan laju pertumbuhan ekonomi terbesar dialami oleh Singapura dan diikuti oleh Philipina.
Berdasarkan laporan Dana Moneter Internasional laju pertumbuhan ekonomi global tahun 2008 mencapai 3,1 persen, atau turun 2,0 persen dibanding dengan tahun sebelumnya Penurunan tersebut dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara maju maupun berkembang. Pertumbuhan negara maju menurun dari 2,6 persen di tahun 2007 menjadi 0,8 persen di tahun 2008, sementara laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang menurun dari 8,3 persen menjadi 6,0 persen.Perlambatan laju pertumbuhan ekonomi global telah membawa implikasi menurunnya aktivitas perdagangan di pasar internasional. Perlambatan ekonomi yang terjadi telah menyebabkan menurunnya permintaan (demand) di pasar dunia, terutama oleh negara-negara maju.
Tekanan eksternal sebagai dampak dari terjadinya krisis global telah mengakibatkan perlambatan pada pertumbuhan perekonomian Indonesia tahun 2008. Setelah mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 6,3 persen pada tahun 2007, perekonomian Indonesia melambat menjadi 6,1 persen pada tahun 2008. Dari sisi penggunaan, konsumsi rumah tangga menjadi sumber utama pertumbuhan diikuti oleh ekspor dan investasi. Sedangkan dari sisi sektoral pertumbuhan tersebut didominasi oleh pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor listrik, gas, dan air bersih, serta sektor keuangan. Konsumsi rumah tangga yang mempunyai peran sekitar 60 persen dalam pembentukan PDB tumbuh sebesar 5,3 persen, meningkat dibandingkan tahun 2007 yang tumbuh sebesar 5,0 persen. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga disumbangkan oleh konsumsi makanan sebesar 4,3 persen dan konsumsi bukan makanan sebesar 6,2 persen. Kebijakan Penguatan konsumsi rumah tangga ditunjukkan oleh peningkatan indikator-indikator konsumsi, antara lain penerimaan PPN, penjualan mobil-motor, konsumsi listrik, dan kredit konsumsi. PPN dalam negeri dan PPN impor dalam tahun 2008 masing-masing tumbuhsebesar 14,2 persen dan 44,7 persen. Sementara itu, pertumbuhan penjualan motor dan mobil masing-masing mencapai 32,6 persen dan 39,3 persen. Indikator konsumsi dari sisi moneter, seperti kredit konsumsi tumbuh sebesar 33,4 persen.
Pengeluaran konsumsi Pemerintah selama tahun 2008 tumbuh sebesar 10,4 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2007 yang hanya tumbuh sebesar 3,9 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan belanja barang yang meningkat sebesar 22,6 persen sedangkan belanja pegawai justru melambat menjadi 4,5 persen. Meskipun pertumbuhannya relative tinggi, peranan konsumsi Pemerintah terhadap PDB relatif kecil, yaitu hanya sebesar 8,4 persen pada tahun 2008.
Investasi merupakan sumber ketiga pertumbuhan PDB dari sisi penggunaan. Selama tahun 2008, investasi mencatat pertumbuhan sebesar 11,7 persen, lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang tumbuh sebesar 9,4 persen. Pertumbuhan investasi yang peranannya dalam PDB mencapai 27,6 persen, didorong oleh tingginya investasi jenis alat angkutan dari luar negeri sebesar 41,4 persen. Sementara kontraksi justru terjadi pada investasi jenis mesin dan perlengkapan domestik yang turun 0,2 persen. Kinerja investasi masih menunjukkan kecenderungan meningkat yang cukup kuat sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa indikator, seperti impor barang modal yang tumbuh sebesar 56,6 persen, penjualan semen dalam negeri tumbuh 12,6 persen, realisasi PMA sebesar 43,7 persen, serta kredit investasi dan kredit modal kerja masing-masing tumbuh sebesar 37,4 persen dan 28,4 persen. Pertumbuhan ekspor pada tahun 2008 mencapai 9,5 persen atau lebih tinggi dibanding tahun 2007 yang mencapai 8,5 persen yang didukung oleh tumbuhnya ekspor barang sebesar 8,7 persen dan ekspor jasa sebesar 17,5 persen. Meningkatnya pertumbuhan ekspor barang ini terutama disebabkan oleh meningkatnya permintaan komoditi seperti Crude Palm Oil (CPO), minyak bumi dan barang pertambangan. Peranan ekspor menempati urutan kedua setelah konsumsi rumah tangga dalam PDB yaitu sebesar 29,8 persen. Pertumbuhan impor mencapai 10,0 persen pada tahun 2008 atau lebih tinggi dibanding tahun 2007 sebesar 8,97 persen. Pertumbuhan impor didorong oleh pertumbuhan impor barang sebesar 10,7 persen dan impor jasa 7,6 persen. Pertumbuhan impor barang ini sejalan dengan naiknya nilai impor migas sebesar 42,6 persen dan impor non migas sebesar 35,7 persen. Peranan impor dalam PDB mencapai 28,6 persen.
Dari sisi penawaran, kinerja pertumbuhan ekonomi tahun 2008 ditandai dengan positifnya pertumbuhan seluruh sektor ekonomi. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada sektor-sektor nontradable, seperti sektor pengangkutan dan komunikasi, sektor listrik, gas dan air bersih, dan sektor keuangan. Sektor pengangkutan dan komunikasi dalam tahun 2008 tumbuh sebesar 16,7 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 14,0 persen. Tingginya pertumbuhan sektor ini disumbang oleh meningkatnya pertumbuhan subsektor komunikasi yang mencapai 31,3 persen sebagai dampak dari maraknya penggunaan telepon seluler.
Sedangkan subsektor pengangkutan mengalami perlambatan pertumbuhan terutama pada subsektor angkutan laut dan udara akibat terjadinya beberapa kecelakaan kapal laut dan pesawat udara. Peranan sektor pengangkutan dan komunikasi dalam PDB sebesar 6,31 persen, sementara kontribusinya sebesar 1,2 persen. Sektor listrik, gas, dan air bersih tumbuh 10,9 persen pada tahun 2008, meningkat dibanding tahun 2007 yang sebesar 10,3 persen. Meningkatnya pertumbuhan sektor ini disumbangkan oleh subsektor gas kota dan air bersih yang masing-masing tumbuh sebesar 33,2 persen dan 3,7 persen. Walaupun pertumbuhan sektor tersebut cukup tinggi, namun kontribusi terhadap pertumbuhan PDB tidak terlalu besar (0,08 persen).
Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 3,7 persen menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,7 persen. Menurunnya pertumbuhan sektor ini terkait dengan terjadinya krisis global yang menyebabkan turunnya permintaan produk-produk domestik terutama industri makanan, minuman, dan tembakau, kertas dan barang cetakan, semen dan barang galian bukan logam, serta logam dasar besi dan baja. Sektor industri pengolahan memberikan peranan tertinggi terhadap PDB yakni sebesar 27,9 persen yang berasal dari peranan subsektor industri bukan migas sebesar 22,3 persen dan subsektor industri migas sebesar 4,9 persen. Sedangkan kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB mencapai 1,0 persen.
Sementara itu, sektor perdagangan tumbuh sebesar 7,2 persen, lebih rendah dibandingkandengan pertumbuhan tahun 2007 yang sebesar 8,4 persen. Mengurangi penurunan dayabeli masyarakat dan cenderung tingginya suku bunga ikut mendorong penurunan pertumbuhan sektor ini. Sektor perdagangan memberikan peranan terbesar kedua dalam PDB, yaitu sebesar 14,0 persen yang berasal dari peranan subsektor perdagangan besar dan eceran sebesar 11,1 persen, subsektor restoran sebesar 2,5 persen, dan subsektor hotel sebesar 0,4 persen. Sedangkan kontribusinya terhadap pertumbuhan PDB mencapai 1,2 persen. Sektor pertanian menunjukkan pertumbuhan yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 3,4 persen pada tahun 2007 menjadi 4,8 persen pada tahun 2008. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan khususnya padi.
Perekonomian dunia yang melemah sebagai akibat terpuruknya sektor keuangan (subprime mortgage) dan meroketnya harga minyak internasional telah mempengaruhi kinerja perekonomian nasional. Memasuki tahun 2009, tekanan terhadap laju pertumbuhan ekonomi global semakin terasa. Pada triwulan III tahun 2009, masih terjadi pertumbuhan negatif yang relatif lebih kecil dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan Amerika Serikat di triwulan tersebut kembali meningkat dibanding triwulan II 2009, yaitu mencapai minus 2,5 persen. Di kawasan Eropa Barat, negara-negara maju seperti Inggris, Jerman, dan Perancis juga mengalami hal yang sama dimana pertumbuhan ekonomi masingmasing pada triwulan III 2009 mencapai minus 5,0 persen, minus 4,8 persen, dan minus 2,4 persen. Penurunan pertumbuhan juga dialami oleh Jepang. Pada triwulan III 2009, laju pertumbuhan ekonomi Jepang menurun hingga mencapai minus 5,1 persen.
Berbeda dengan Jepang, AS, dan negara maju Eropa Barat, laju pertumbuhan Korea Selatan menunjukkan adanya pembalikan. Setelah mengalami pertumbuhan negatif di triwulan II 2009, perekonomian Korea Selatan berhasil tumbuh positif di triwulan III 2009, yaitu sebesar 0,9 persen. Tren penurunan pertumbuhan ekonomi secara umum juga masih terjadi di negaranegara berkembang di kawasan Asia, termasuk India dan China yang mengalami pertumbuhan tinggi selama ini. Pada triwulan III 2009 perekonomian India tumbuh lebih baik dibanding triwulan sebelumnya, meningkat dari 6,1 persen menjadi 7,9 persen. Perekonomian China meningkat dari 7,9 persen menjadi 8,9 persen.
Di kawasan Asia Tenggara, perekonomian Malaysia masih memiliki laju pertumbuhan negative yaitu sebesar minus 1,2 persen. Sementara Philipina, yang pada triwulan II 2009 masih tumbuh sebesar 0,8 persen, di triwulan ketiga 2009 masih tumbuh 0,8 persen. Singapura mengalami kenaikan pertumbuhan yaitu sebesar 0,6 persen dan Thailand mengalami penurunan pertumbuhan sebesar minus 2,8 persen. Indonesia merupakan satu-satunya negara diantara kelima anggota utama ASEAN yang masih mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi, yaitu sebesar 4,2 persen. Memasuki triwulan III tahun 2009 beberapa indikator ekonomi seperti indeks kegiatan produksi, penjualan retail serta tingkat kepercayaan masyarakat di beberapa Negara mulai menunjukkan adanya potensi pembalikan aktivitas dan pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih baik.
Walaupun telah dilakukan berbagai respon kebijakan untuk mengatasi krisis laju pertumbuhan ekonomi global di tahun 2009 diperkirakan masih mengalami kontraksi. IMF, dalam World Economic Outlook (September 2009), memperkirakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi global tahun 2009 akan mencapai minus 1,1 persen. Pertumbuhan negatif tersebut terutama dipengaruhi oleh kontraksi perekonomian yang terjadi di negara-negara maju. IMF memperkirakan bahwa negara-negara maju akan mengalami pertumbuhan ekonomi sebesar minus 3,6 persen sementara negara-negara berkembang hanya akan tumbuh sebesar 1,7 persen.
Kontraksi pertumbuhan ekonomi di berbagai negara pada triwulan I tahun 2009 membawa dampak pada menurunnya aktivitas perdagangan dunia. Laju pertumbuhan ekspor barang dunia (rata-rata bergerak 3 bulan) di bulan Januari dan Februari 2009 mencapai kisaran minus 61 persen hingga 63 persen. Penurunan ekspor ini terutama terjadi pada barang konsumsi tahan lama (durable goods) seperti kendaraan bermotor, elektronik, dan lainnya. Memasuki triwulan II tahun 2009, mulai terlihat adanya pemulihan aktivitas perdagangan dunia. Laju pertumbuhan ekspor barang, walaupun masih mengalami pertumbuhan negatif, telah terjadi pembalikan di bulan April 2009. Dalam asumsi APBN 2009, pertumbuhan ekonomi domestik semula diperkirakan mencapai 6,0 persen, melambat dibandingkan pertumbuhan tahun 2008 yang sebesar 6,1 persen. Namun, seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, perkiraan pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2009 mengalami koreksi menjadi 4,5 persen dalam Dokumen Stimulus.
Dengan melihat kondisi terkini, proyeksi pertumbuhan ekonomi kembali disesuaikan menjadi 4,3 persen dalam RAPBN-P 2009. Pada triwulan III tahun 2009, pertumbuhan PDB mencapai 4,2 persen, menurun dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 6,3 persen. Sumber-sumber pertumbuhan ekonomi dalam triwulan III tahun 2009 meliputi konsumsi rumah tangga (4,7 persen), konsumsi Pemerintah (10,2 persen), investasi (4,0 persen), serta ekspor dan impor (minus 8,2 persen dan minus 18,3 persen). Laju pertumbuhan tertinggi bersumber dari konsumsi Pemerintah sebesar 10,2 persen yang jauh meningkat dibandingkan triwulan III tahun sebelumnya sebesar 14,1 persen. Penurunan ini terkait dengan penyerapan anggaran sudah dimulai sejak awal tahun, sedangkan tahun sebelumnya dimulai setelah triwulan I. Sementara itu, konsumsi masyarakat tumbuh sebesar 4,7 persen, lebih rendah dibanding periode yang sama tahun 2008 yang mencapai 5,3 persen. Menurunnya konsumsi masyarakat tersebut karena melemahnya daya beli masyarakat akibat terjadinya krisis.







Laju pertumbuhan investasi triwulan III tahun 2009 mencapai 4,0 persen, jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 12,2 persen. Dari sisi perdagangan internasional, tekanan krisis global terhadap produk domestik mengakibatkan kontraksi yang tajam pada kinerja ekspor-impor Indonesia. Turunnya harga minyak dan volume perdagangan dunia menjadi faktor penyebab negatifnya pertumbuhan ekspor dan impor. Ekspor barang dan jasa tumbuh sebesar minus 8,2 persen sedangkan impor minus 18,3 persen. Perekonomian Indonesia diperkirakan mulai pulih pada akhir tahun 2009.
Dengan memperhatikan perkembangan dalam triwulan III dan perkiraan kedepan laju pertumbuhan PDB tahun 2009 diperkirakan mencapai 4,3 persen. Perkiraan realisasi tersebut didukung oleh sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 5,1 persen, konsumsi Pemerintah 12,9 persen, investasi 3,7 persen, dan eksporimpor tumbuh minus 16,1 persen dan minus 18,5 persen. Konsumsi rumah tangga diperkirakan mengalami peningkatan dibandingkan perkiraan dalam Dokumen Stimulus yaitu dari 4,0 persen menjadi 5,8 persen. Peningkatan tersebut didorong oleh meningkatnya daya beli masyarakat terkait dengan terkendalinya laju inflasi. Selain itu, pencairan berbagai bantuan sosial Pemerintah dan penyelenggaraan Pemilu juga mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Adapun konsumsi Pemerintah diperkirakan mencapai 12,9 persen, lebih tinggi bila dibandingkan Dokumen Stimulus sebesar 10,0 persen.
Dari sisi perdagangan, laju pertumbuhan ekspor barang dan jasa diperkirakan mengalami penurunan tajam, yaitu dari 0,0 persen dalam Dokumen Stimulus menjadi minus 13,9 persen. Penurunan permintaan dari China, Jepang, dan Amerika Serikat sebagai negara utama tujuan ekspor, relatif cukup besar dalam memicu penurunan pertumbuhan ekspor. Sejalan dengan menurunnya kinerja ekspor dan kegiatan ekonomi, pertumbuhan impor diperkirakan juga mengalami penurunan menjadi minus 8,5 persen atau lebih rendah dari perkiraan dalam Dokumen Stimulus sebesar minus 2,2 persen.
Dari sisi sektoral, pertumbuhan tertinggi pada triwulan III tahun 2009 dicapai oleh sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 18,2 persen. Pertumbuhan sektor tersebut relatif lebih stabil dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 18,3 persen. Pertumbuhan terendah terjadi pada sektor perdagangan, hotel dan restoran yang tumbuh minus 0,6 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan didukung oleh sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja, antara lain sektor pertanian, sektor industri pengolahan, dan sektor lainnya. devisa dalam tahun 2010 diperkirakan mencapai US$72.965 juta, atau meningkat dibandingkan posisi pada tahun sebelumnya. Peningkatan cadangan devisa ini bersumber dari surplus transaksi berjalan dan neraca modal dan finansial. Surplus transaksi berjalan diperkirakan mencapai US$2.939 juta (0,2 persen terhadap PDB), lebih rendah dibandingkan surplus tahun sebelumnya yang mencapai US$8.416 juta (0,3 persen terhadap PDB). Penurunan ini terjadi karena peningkatan nilai ekspor yang lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan impor dan defisit pos jasa-jasa karena meningkatnya aktivitas ekonomi domestik akan mendorong kenaikan impor barang dan jasa secara signifikan. Nilai ekspor diperkirakan mencapai US$127.514 juta atau naik sekitar 10,3 persen dibandingkan nilai tahun 2009. Nilai impor diperkirakan mencapai US$99.856 juta atau naik sekitar 16,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam tahun 2009 tekanan terhadap perekonomian domestik sebagai dampak krisis global diperkirakan memasuki puncaknya. Pada triwulan II, ekspor dan impor dalam PDB mengalami kontraksi yaitu masing-masing sebesar 8,2 persen dan 18,3 persen. Investasi juga tumbuh melambat sebesar 4,0 persen, jauh lebih rendah dibandingkan pertumbuhan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar 12,2 persen. Hal yang cukup membantu di dalam menopang perekonomian nasional adalah belanja Pemerintah dan konsumsi masyarakat. Laju pertumbuhan tertinggi dialami oleh konsumsi Pemerintah sebesar 10,2 persen. Sementara itu, konsumsi masyarakat mampu tumbuh 4,7 persen, lebih rendah dibanding periode yang sama pada tahun 2008 sebesar 5,7 persen. Secara agregat pertumbuhan komponen PDB tersebut telah mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 4,2 persen. Dengan memperhatikan realisasi pada triwulan I tahun 2009, pertumbuhan PDB hingga akhir tahun 2009 diperkirakan mencapai 4,3 persen.
Dalam rangka mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang positif, stabilitas ekonomi harus tetap dijaga. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian inflasi dan nilai tukar untuk menciptakan kondisi yang kondusif. Perkembangan laju inflasi tahunan pada bulan September 2009 sebesar 2,83 persen , sedangkan laju inflasi tahun kalender dari Januari hingga September 2009 mencapai 2,28 persen. Dengan memperhatikan perkembangan inflasi sampai dengan bulan September dan membaiknya ekspektasi inflasi pada bulan-bulan selanjutnya, inflasi akhir tahun 2009 diperkirakan mencapai 4,5 persen. Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang periode Januari–September 2009 menunjukkan kecenderungan menguat. Penguatan tersebut didorong oleh kembali meningkatnya arus modal masuk antara lain dari pasar saham dan obligasi. Rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada periode tersebut mencapai Rp10.720 per dolar AS. Penguatan tersebut diperkirakan terus berlanjut sehingga rata-rata selama tahun 2009 diharapkan dapat mencapai Rp10.500 per dolar AS. Rendahnya laju inflasi dan terjaganya pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menjadi faktor penguat pulihnya kondisi ekonomi nasional. Kondisi ini turut memberi ruang untuk penurunan suku bunga.

E. Indeks Harga dan Inflasi
1. Indeks Harga
Sebelum membahas tentang indeks harga, kita harus terlebih dahulu mengetahui pengertian dari angka indeks. Angka indeks adalah sebuah rasio yang pada umumnya dinyatakan dalam persentase yang mengukur satu variabel pada kurun waktu/lokasi tertentu relatif terhadap besarnya variabel yang sama pada waktu atau lokasi lainnya.
Kenaikan harga-harga yang berlaku dari satu waktu ke waktu lainnya tidak berlaku secara searagam. Kenaikan tersebut BISAanya berlaku atas kebanyakan barang, tetapi tingkat kenaikannya berbeda. Ada yang tinggi presentasenya dan ada yang rendah. Disamping itu, sebagian barang tidak mengalami kenaikan. Berlakunya tingkat perubahan harga yang berbeda tersebut menyebabkan indeks harga perlu di bentuk untuk menggambarkan tingkat perubahan harga-harga yang berlaku daam suatu Negara. Untuk mengukur tingkat inflasi, indeks harga yang selalu di gunakan adalah indeks harga konsumen yaitu indeks harga dari barang-barang yang selalu di gunakan para konsumen.
Indeks harga konsumen mengukur perubahan harga sekelompok besar barang yang dibeli oleh konsumen. IHK mempunyai beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut :
a) Memungkinkan konsumen untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perubahan harga terhadap tingkat daya beli mereka.
b) Merupakan salah satu indikator dalam mengetahui tingkat inflasi dan tingkat keberhasilan kegiatan ekonomi.
c) Menentukan daya beli mata uang tertentu.













Ada 3 langkah yang perlu di lakukan untuk membentuk indeks harga, yaitu:
 Memilih tahun dasar, yakni tahun yang menjadi titik tolak dalam membandingkan perubahan harga.
 Menentukan jenis-jenis barang yang perubahan harga-harganya akan di amati untuk membentuk indeks harga.
 Menghitung indeks harga.

2. Inflasi
a) pengertian dan penyebab terjadinya inflasi
inflasi adalah suatu keadaan dimana harga naik secara terus menerus yang mengakibatkan nilai uang menjadi turun.
Penyebab terjadinya inflasi ada beberapa macam, diantaranya:
 Inflasi yang di sebabkan karena kelebihan permintaan efektif atau yang sering disebut dengan demand-pull inflation. Pembelanjaan masyarakat terlalu besar, masyarakat konsumen, para produsen, pemerintah, dan luar negeri bersama-sama mau membeli lebih banyak barang dan jasa daripada yang dapat di sediakan dengan kapasitas produksi yang ada. Karena permintaan yang berlebihan itu, keseimbangan antara supply dan demand terganggu, sehingga harga-harga naik.
 Inflasi yang disebabkan karena kenaikan biaya produksi atau yang disebut dengan cost-push inflation. Penyebab inflasi ini bisa karena kenaikan harga-harga bahan baku seperti minyak tanah misalnya dan bisa juga disebabkan karena kenaikan upah atau gaji. Penyebab inflasi ini merupakan penyebab yang paling di takuti, karena menimbulkan “spiral upah-harga”.karena upah naik, hrga-harga naik.dan karena harga-harga naik, upah harus dinaikkan,demikian seterusnya.
 Inflasi dari luar negeri (imported inflation). Jenis inflasi ini banyak di alami oleh Negara-negara sedang berkembang yang sebagian besar dari usaha produksinya di hampir semua sektor industri mempergunakan bahan dan alat yang masih harus di impor daari luar negeri. Misalnya inf lasi yang ada di Jepang terpaksa di impor ke Indonesia karena harga bahan cat, bahan foto, kendaraan dan bahan apa saja yang berasal dari sana mengandung nflasi itu.











b) jenis-jenis inflasi
Jenis inflasi Presentase
Inflasi ringan (creeping inflation) Di bawah 10% setahun
Inflasi sedang 10% - 30% setahun
Inflasi berat 30% - 100% setahun
Hiper inflasi Di atas 100% setahun

c) Pengaruh inflasi dalam perekonomian
BISAanya penyebab inflasi yang sudah di jelaskan di atas, saling mendorong dan saling memperkuat. Sekali orang menyadari adanya inflasi, mereka akan bertindak demikian rupa hingga justru memperkuat inflasi yang sudah ada.
Karena harga naik, para pedagang cenderung menyimpan barangnya menunggu sampai harga naik lebih tinggi lagi. Ini menyebabkan peredaran berkurang dan akibatnya harga-harga akan naik. Karena harga-harga naik, para pengusaha akan mengikuti gerakan harga untuk mempertahankan atau meningkatkan pendapatan dan labanya dengan menaikkan harga jualnya.
Karena harga-harga naik juga, masyarakat cenderung juga segera membeli barang (sebelum harga naik lagi) sehingga permintaan akan barang naik dan harga-harga justru akan bertambah naik lagi.
d) Akibat-akibat yang di timbulkan dari adanya inflasi
Banyak orang bisnis berpendapat bahwa inflasi yang lunak (mild inflation) artinya 2-3 % pertahun itu tidak apa-apa, bahkan justru dapat merangsang dunia usaha untuk memperluas produksinya, Sehingga dapat menciptakan lapangan kerja. Tetapi kalau laju inflasi lebih dari 5% apalagi kalu di atas 10% akibatnya tidak baik, antara lain:
Dalam masa inflasi, masyarakat cenderung enggan menabung dan juga enggan pegang uang kas, sebab niai riil uang terus merosot. Masyarakat lebih suka menyimpan kekayaannya dalam bentuk barang. Keadaan yang demikian akan mendorong timbulnya spekulasi perdagangan dan dapat menciptakan inflasi yang jauh lebih hebat.
Adanya kenaikan harga umum juga akan menyebabkan harga-harga barang ekspor menjadi mahal, sehingga barang-barang ekpor kita sulit bersaing di pasar internasional. Sebaliknya impor relative murah yang mendorong untuk memperbesar impor. Hal ini memberatkan neraca pembayaran dan merugikan produsen dalam negeri.
Inflasi menyebabkan nilai riil uang merosot, akibatnya orang yang berpendapatan tetap (seperti gaji pegawai negeri), daya belinya terus merosot. Demikian pula orang yang meminjamkan uang di rugikan. Sebab pada saat jatuh tempo mereka akan menerima kembali uang mereka dengan nilai riil lebih rendah. Bila kerugian ini mau di imbangi dengan bunga, maka suku bunga yang menjadi tinggi.
Dalam masa inflasi, kenaikan harga untuk bermaca-macam barang tidak berjalan dengan laju yang sama. Hal ini menguntungkan bagi pihak-pihak yang memiliki faktor produksi atau barang yang mengalami kenaikan harga paling tinggi. Dalam keadaan inflasi, mereka yang mempunyai kekeyaan lebih banyak akan jauh lebih bisa bertahan dari pada mereka yang miskin. Yang kaya menjadi tambah kaya sedang yang miskin tambah miskin.dengan demikian inflasi dapt memperburuk distribusi pendapatan di antara warga masyarakat.

e) Menghitung laju inflasi











RANGKUMAN

1. Konsep-konsep pendapatan nasional ada beberapa macam yaitu:
a. Produk domestik bruto (Gross Domestik PRODUK) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan.
b. Produk nasional bruto (Gross National PRODUK) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun; termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut.
c. Produk nasional neto (net national PRODUK)adalah GNP dikurangi depresiasi atau penyusutan yang disebut juga replacement dari barang modal.

d. Pendapatan nasional neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi.
e. Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun.
f. Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi.
2. untuk mengukur pendapatan daerah di gunakan produk domestik regional bruto (PDRB) yakni jumlah nilai tambah atau jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah dalam satu tahun tertentu.
3. Pendapatan per kapita adalah besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan per kapita didapatkan dari hasil pembagian pendapatan nasional suatu negara dengan jumlah penduduk negara tersebut.
4. Pendapatan nasional dapat dihitung dengan tiga pendekatan, yaitu:
- Pendekatan pendapatan
Secara matematis penghitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan dapat dirumuskan :


- Pendekatan produksi
Secara sistematis penghitungan pendapatan nasional dengan metode produksi dapat dirumuskan :


- Pendekatan pengeluaran
Secara matematis penghitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran dapat dirumuskan :


5. perhitungan pendapatan nasional memiliki manfaat-manfaat diantaranya untuk mengetahui dan menelaah struktur perekonomian nasional. Disamping itu, data pendapatan nasional juga dapat digunakan untuk menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional. Data tersebut juga digunakan untuk membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, membandingkan perekonomian antarnegara atau antardaerah, dan sebagai landasan perumusan kebijakan pemerintah.

6. Besarnya tekanan ekonomi pada tahun 2008 yang terjadi di dunia tampak pada penurunan laju pertumbuhan ekonomi baik di negara-negara industri maju maupun berkembang. Secara umum laju pertumbuhan ekonomi di berbagai negara menunjukkan tren menurun dari awal triwulan I hingga triwulan IV tahun 2008. Laju pertumbuhan ekonomi di Inggris, Jerman, dan Perancis, yang pada triwulan I tahun 2008 masing-masing sebesar 2,48 persen, 2,84 persen dan 0,4 persen terus menurun di triwulan-triwulan selanjutnya hingga masing-masing mencapai minus 1,61 persen, minus 1,65 persen dan minus 1,50 persen pada triwulan IV tahun 2008. Bahkan perekonomian Perancis telah mencatat laju pertumbuhan negatif sejak triwulan II tahun 2008.
Penurunan laju pertumbuhan ekonomi juga dialami oleh negara-negara berkembang, termasuk di kawasan Asia. China dan India, yang merupakan dua negara berkembang dengan kinerja ekonomi paling baik di Asia juga mengalami penurunan pertumbuhan, walaupun tidak mencapai laju pertumbuhan negatif di triwulan IV tahun 2008. Di kawasan Asia Tenggara, penurunan laju pertumbuhan juga dialami oleh negara-negara ASEAN dengan kecepatan yang berbeda. Di antara lima negara utama ASEAN, penurunan pertumbuhan selama tahun 2008 terlihat jelas pada perekonomian Singapura, diikuti oleh Thailand dan Malaysia. Pertumbuhan ekonomi Singapura yang pada triwulan I tahun 2008mencapai 6,70 persen menurun hingga mendekati 0,04 persen pada triwulan III dan kemudian mencapai minus 4,23 persen pada triwulan IV tahun 2008. Pertumbuhan ekonomi Thailand sebesar 6,0 persen pada triwulan I, melambat pada triwulan-triwulan berikutnya hingga mencapai pertumbuhan minus 4,25 persen pada triwulan IV. Negara-negara ASEAN lainnya, yaitu Malaysia, Philipina, dan Indonesia juga mengalami pola perlambatan yang sama, walaupun tidak mencapai pertumbuhan negatif pada triwulan terakhir tahun 2008.
Pada triwulan IV tahun 2008, laju pertumbuhan ekonomi Malaysia mencapai 0,08 persen, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Philipina masih lebih baik yaitu masingmasing mencapai 5,18 persen dan 4,51 persen. Dari pola yang ada, secara umum dapat diduga bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi terutama terjadi pada negara-negara dengan peran ekspor cukup besar dalam perekonomian nasionalnya. Negara-negara dengan karakteristik tersebut mengalami pukulan terberat akibat penurunan kinerja ekspor yang disebabkan oleh melemahnya permintaan (demand) darinegara-negara maju.
7. Untuk mengukur tingkat inflasi, indeks harga yang selalu di gunakan adalah indeks harga konsumen yaitu indeks harga dari barang-barang yang selalu di gunakan para konsumen.

8. inflasi adalah suatu keadaan dimana harga naik secara terus menerus yang mengakibatkan nilai uang menjadi turun. Penyebab terjadinya inflasi ada beberapa macam, diantaranya:
 Inflasi yang di sebabkan karena kelebihan permintaan efektif atau yang sering disebut dengan demand-pull inflation.
 Inflasi yang disebabkan karena kenaikan biaya produksi atau yang disebut dengan cost-push inflation.
 Inflasi dari luar negeri (imported inflation).

9. Akibat-akibat yang di timbulkan dari adanya inflasi
timbulnya spekulasi perdagangan
neraca pembayaran tinggi dan merugikan produsen dalam negeri.
orang yang berpendapatan tetap (seperti gaji pegawai negeri), daya belinya terus merosot.
memperburuk distribusi pendapatan di antara warga masyarakat.














SOAL ANALISIS





















UJI KOMPETENSI
I. Pilihan Ganda
Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1.






Keterangan di atas yang merupakan salah satu metode dalam perhitungan pendpatan nasional, yaitu dengan pendekatan……
a. Perusahaan c. Pendapatan e. Pendapatan dan pengeluaran
b. Produksi d. Pengeluaran
2. Pendapatan nasional yang dihitung berdasarkan pengeluaran yang dilakukan oleh sektor-sektor ekonomi dinamakan….
a. Produk Domestik Bruto d. Pendapatan Per Kaapita
b. Pendapatan Domestik Bruto e. Pendapatan Pemerintah
c. Pendapatan Disposibel
3. Komponen perhitungan pendapatan nasional bila menggunakan pendekatan pendapatan adalah….
a. Pertanian, pertambangan, industri, dan bangunan
b. Produksi, konsumsi, dan distribusi
c. Upah, sewa dan bunga laba
d. Pusat, Dati I, dan Dati II
e. Rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri
4. Melalui pendekatan pengeluaran, maka besarnya pendapatan nasional suatu Negara secara matematis dapat dihitung…….
a. Y = (P1 x Q1) + (P2 x Q2) + …………(Pn x Qn)
b. Y = C + I + G + (X-M)
c. Y = r + w + i + n
d. Y = aX + bX
e. Y = a + bY

5. Di ketahui data sebagai berikut (dalam miliar rupiah)








Dari data di atas besar pendapatan nasional dengan metode pengeluaran adalah . . . . . . a. Rp 207.063 M d. Rp 175.288 M
b. Rp 202.569 M e. Rp 140.245 M
c. Rp 186.515 M


6. Di ketahui:











Dengan menggunakan metode pendapatan, besarnya pendapatan nasional adalah . . .
a. Rp 11500,00 d. Rp 21500,00
b. Rp 12600,00 e. Rp 25500,00
c. Rp 13500,00


GNP Rp 80.000,00
Penyusutan Rp 4.000,00
Pajak langsung Rp 2.500,00
GNP Rp 80.000,00
Penyusutan Rp 4.000,00
Pajak langsung Rp 2.500,00
6. Di ketahui (dalam miliar rupiah)






Berapa besarnya NNP?
a. Rp 77.500,00 d. Rp 84.000,00
b. Rp 76.000,00 e. Rp 82.500,00
c. Rp 75.500,00
8. Pada tahun 2001, PDB Indonesia adalah Rp 1.490.974,2 miliar; apabila di ketahui pendapatan faktor neto dari luar negeri sebesar Rp 15.780,1 miliar, maka produk nasional bruto adalah . . . . . miliar.
a. Rp 1.247.904,1 d. 1.475.194,1
b. Rp 1.271.000,1 e. Rp 1.506.754,3
c. Rp 1.274.904,1
9. Produk nasional neto adalah . . . . . .
a. pendapatan yang diterima masyarakat dalam suatu Negara
b. jumlah barang dan jasa yang dihasilkan dlaam satu tahun
c. GNP dikurangi penyusutan dan penggantian modal
d. GNP dikurangi pajak tidak langsung
e. Pendapatan yang dipeoleh dari pemilik faktor produksi
10. Di bawah ini yang tidak termasuk pengeluaran pemerintah (government expenditure) yaitu . . . . .
a. Pengeluaran gaji untuk pegawai negeri
b. memberikan beasiswa kepada murid teladan
c. pembangunan sarana pendidikan dan kesehatan
d. pengeluaran untuk menyediakan tentara dan polisi
e. pengembangan infra struktur untuk kepentingan masyarakat
11. Berikut ini komponen pendapatan nasional:








Yang merupakan komponen pendapatan nasional dengan pendekatan pendapatan adalah . . . . .
a. 1), 2), dan 3) d. 1),2), dan 5)
b. 2),4), dan 5) e. 4),5), dan 6)
c. 3), 4), dan 6)
12. Tujuan dan manfaat mempelajari pendapatan nasional :
1) Membantu membuat rencana dan melaksanakan pembangunan secara bertahap.
2) Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi tingkatan kemajuan perekonomian.
3) Membandingkan perekonomian antar Negara.
4) Membantu merumuskan kebijaksanaan pemerintah.
5) Mengetahui dan menelaah struktur perekonomian.
Yang merupakan manfaat mempelajari pendapatan nasional adalah:
a. 1), 2), dan 3) d. 2),4), dan 5)
b. 1),3), dan 4) e 3), 4), dan 5)
c. 2),3), dan 4)
13.



Apa arti X pada rumus di atas ?
a. subsidi d. depresiasi atau penyusutan
b. pembayaran transfer e. ongkos-ongkos faktor produksi
c. pajak tidak langsung
14. Negara X dalam tahun 1995 mempunyai data (dalam miliar rupiah) sebagai berikut: - pendapatan nsional bruto RP 360.000,00
- laba yang di tahan Rp 60.000,00
- pajak langsung Rp 4.000,00
- penyusutan modal tetap Rp 20.000,00
- pajak tidak langsung Rp 40.000,00
Berdasarkan data di atas, maka NNI sebesar. . . . .
a. Rp 340.000,00 d. Rp296.000,00
b. RP 316.000,00 e. Rp 236.000,00
c. Rp 300.000,00
15. Diketahui pendapatan nasional Negara”X” tahun 1995 (dalam jutaan rupiah) sebagai berikut:







Berdasarkan data di atas pendapatan perseorangan (personal income) adalah. . . . .
a. Rp 440.000,00 d. Rp 405.000,00
b. Rp 420.000,00 e. Rp 390.000,00
c. Rp 410.000,00

16. Inflasi mengandung pengertian . . . . .
a. menguatnya nilai uang
b. Menurunnya nilain uang
c. Berkurangnya jumlah uang yang beredar
d. Menurunnya daya beli masyarakat
e. bertambahnya jumlah uang yang beredar
17. Iinflasi yang di sebabkan oleh permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga disebut . . . . .
a. Demand pull inflation d. imported inflation
b. cost inflation e. mixed inflation
c. supply inflation

18. Batasan inflasi sedang adalah apabila inflasi mencapai . . . . .
a. di bawah 10% setahun d. berada antara 10% - 30% setahun
b. di atas 10% setahun e. berada antara 30% - 40% setahun
c. di atas 50% setahun
19. Yang tidak termasuk data transfer payment adalah. . . . . .
a. pembayaran dana pension
b. subsidi untuk penganggur
c. tunjangan pada veteran
d. membayar bunga utang pemerintah
e. membayar gaji/upah pegawai
20. Pendapatan yang siap di belanjakan adalah. . . . .
a. NNP dikurangi pajak tidak langsung
b. GNP dikurangi penyusutan
c. PI dikurangi pajak langsung
d. NNP dikurangi pajak perusahaan
e. PI dikurangi pajak tidak langsung
II. ESSAY
Jawablah dengan singkat dan jelas!
1. Apa yang dimaksud dengan pendapatan nasional ?
2. Mengapa suatu Negara perlu menghitung Pendapatan Nasional?
3. Sebutkan pendekatan-pendekatan yang di gunakan dalam penghitungan pendapata nasional!
4. Jelaskan cara menghitung Produk Nasional Bruto atau gross national PRODUK suatu Negara !
5. Mengapa pembayaran transfer bunga atas utang Negara tidak termasuk dalam perhitungan pendapatan nasional?
6. Sebutkan bentuk-bentuk transaksi yang tidak dimasukkan ke dalam penghitungan Pendapatan Nasional !
7. Sebutkan sebab-sebab terjadinya inflasi!
8. Sebutkan dampak inflasi bagi perekonomian dan masyarakat!
9. Jelaskan pengertian pendapatan domestik bruto dan pendapatan domestik regional bruto!
10. Jelaskan arti pendapatan per kapita!








Terimakasih telah membaca artikel PENDAPATAN NASIONAL PETA KONSEP,semoga bermanfaat!

Poskan Komentar

Berlangganan FEED via email

Blog Stats

PENDAPATAN NASIONAL PETA KONSEP

Copyright  © File Skripsi - All Right Reserved. | Theme designed by File Skripsi