Kamis, 30 Mei 2013

Embrio Pada Tumbuhan

BAB I
PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang

Tumbuh tumbuhan berawal dari embrio, embrio akan muncul karena adanya pembuahan dan polinasi. Kormus yang sudah memperlihatkan diferensiasinya dapat kita lihat seperti: akar,batang daun,semua itu terbentuk dari embrio,dimana embrio tersebut akan berkembang menjadi tumbuhan,tumbuhan yang dewasa akan menghasilkan bunga,dan kemudian menjadi buah melalui proses polinasi.sedangkan pembuahan merupakan pristiwa peleburan antar sel telur yang terjadi pada kandung lembaga dengan suatu inti yang berasal dari serbuk sari.

Sudah jelas dalam proses pertumbuhan dan perkembangan diawali dengan polinasi, kemudian tahap pertahap membentuk zigot dan kemudian berkembamg menjadi embrio. Biji dibatasi sebagai embrio, yang merupakan embrio sporofit diploid belum dewasa yang berkembang dari zigot, dikelilingi oleh jaringan nutrisi dan dilindungi kulit biji. Secara umum embrio terdiri dari akar yang disebut radikula, meristem pucuk apical yang disebut epikotil, dan satu atau lebih daun yang disebut kotiledon 

BAB II
PEMBAHASAN 

Emberio (Lembaga) 

Lembaga atau embryo merupakan calon tumbuhan baru, yang nantinya akan tumbuh menjadi tumbuhan baru, lembaga didalam biji telah memperlihatkan ketiga bagian utama tubuh tumbuhan yaitu :

a. Akar lembaga atau calon akar (radicula). yang biasanya akan tumbuh terus merupakan akar tunggang ( untuk tumbuhan yang tergolong dicotyledoneae).akar lembaga ini ujungnya menghadap kearah liang biji,dan pada perkecambahab biji,kar itu akan tumbuh menembus kulit biji (spermodermis)dan keluar. Pada rumput (Gramineae),akar lembaga dalam biji terselubungi oleh suatu sarung yang dinamakan sarung akar lembaga (coleorhiza). Pada perkecambahan biji rumput sarung calon akar itu juga akan tertembus dan sisanya akan tinggal sebagai badan yang melingkar pada pangkal akar 

b. Daun lembaga (cotyledon), yang merupakan daun pertama suatu tumbuhan. Daun lembaga dapat mempunyai pungsi yang berbeda-beda yaitu : 

a) Sebagai tempat penimbunan makanan, yang lalu kelihtan tebal, seringkali mempunyai bentuk cembung pada satu sisi dan rata pada sisi yang lain,jumlahnya biasanya dua,dan duduk berhadapan pada sisi yang rata. Dalam hal yang demikian nampaknya biji seperti terdiri atas dua belahan atau dua keping saja, oleh sebab itu daun lembaga seringkali dinamakan belahan biji atau keping biji, yang sebenarnya tidak tepat.

b) Sebagai alat untuk melakukan asimilasi, jadi bertugas seperti daun-daun biasanya. 
c. Batang lembaga (cauliculus), yang sering kali dapat dibedakan dalm dua bagian yaitu:
a) ruas batang diatas daun lembaga (internodium 


epicotylum)
b ) ruas batang diatasdaun lembaga (internodium hypocotylum )

Batang lembaga besrta calon-calon daun merupakan bagian lembaga yang dinamakan pucuk lembaga (plumula) jumlah daun lembaga pada biji merupakan salah satu ciri yang penting dalm mengadakan penggolongan tumbuuhan biji : 

a) Tumbuhan bijinya yang mempunyai lembaga dengan satu daun lembaga. Disini daun lembaga mempunyai bentuk seperti perisai dan bertugas untuk mengisap makanan dari putih lembaga,dan dinamakan skutelum. Tumbuhan yang lembaganya hanya mempunyai satu daun lembaga disebut : tumbuhan biji tunggal (monocotyledoneae),karena biji tampak utuh atau tunggal. 

b) Tumbuhan yang bijinya mempunyai lembaga dengan dua daun lembaga,dengan adanya dua daun lembaga tersebut dinamakantumbuhna biji belah (dicotyledoneae)

c) Tumbuhan yang bijinya mempunyai lembaga dengan lebih dari dua daun lembaga, biji dengan lemabaga yang mempunyai lebih dari dua daun lembag hanya dapat kita dapati pada golongan tumbuhan biji terbuka ( gymnospermae)

A. Pembentukan endosperm dan embrio 

Endosperm adalah cadangan makanan untuk embrio. proses pembentukan endosperm dan embrio meliputi proses pertilisasi atau pembuahan yang dapat terjadi setelah proses polinasi.polinasi adalah peristiwa menempelnya butir serbuk sari diatas kepala putik. Polinasi tidak selalu diikuti dengan proses fertlisasi. Fertilisasi dapat terjadi jika 
a) Butir serbuk sari dan kepala putik berasal dari jenis yang sama, dan 
b) Butir serbuk sari dan kepala putik sama-sama dalam keadaan masak,siap untuk fertilisasi

1. Perkembangan Embryo

Setelah fertilisasi,zigot terbentuk. Selanjutnya,zigot mengalami dorman selama periode tertentu. Pada saat yang sama, vakuola besar yang terdapat dalam telur menghilang dan sitoplasma menjadi homogen . zigot kemudian mulai membelah setelah pembelahan inti endosperm, pada oryza,zigot mulai membelah beberapa jam setelah fertillisasi.biji yang mengandung tumbuhan dalm keadaan embrio,

Lembaga atau sama artinya dengan tumbuhan yang seakan baru dilahirkan yang merupakan hasil perkawinan antara salah satu inti generative dari serbuk sari dan inti primer dari saccus embrional diselubungi oleh kulit biji dan dibekali dengan sumber makanan cadangan embrio dikelilingi oleh kotledon dan endosperma yang dihasilkan dari peleburan salah satu gamet jantan dengan kedua nucleus skunder. 

Embrio dan persediaan makanannya terbunngkus oleh radikula yang merupakan bakal akar. Bagian sumbu Embrionik diatas kotiedon adalah epikotil. Pad ujungnya terdapat plumula yang merupakan bakal pupcuk atau daun.dan pada bagian batang akar atau radikula. Baik radilkula atau plumula terdapat meristem apeks diujungnya. Selain itu terdapt kotiledon yang akan menyerap zat-zat makanan dari endosperma dan memindahkannya dari embrio ketika bijji mulai berkecambah. 

Pembelahan sel didalam embrio diiringi dengan pertumbuhan serta vakuolasi yaitu dibentuknya vakuola yang membesar dari sel-sel yang terjadi, memulai organisasi dari system jaringan. Bakal epidermis ditunjukkan oleh lapisan permukaan yang bersifat meristematik yakni protoderm. Dibawah protoderm dasar dari bakal kotes sudah dapat dibedakan denagan adanya vakuolasi sel yang melebihi vakuolasi jaringan disebelahnya. Jaringan ditengah yang kurang tervakuolasi dan memanjang sepanjang sumbu hipokotil-akar merpakan meristem bakal jaringan pembuluh,jarinagn ini disebut prokambium. Prokambium merupakan system yang nerkesinambungan dan terkoordinasi antara kotiledon dan sumbu hipokotil-akar. 

B. Perkembangan Embrio dikotil dan Monokotil 

1. Embrio Dikiotil 

Embrio ini mula-mula membelah secara transversal membentuk sel basal dan sel terminal.sel basal membelah secara tranpersal dan sel terminal membelah secara longitudinal membentuk 4 sel perembrio. Sel-sel yang berasal dari sel terminal membelah secara longitudinal membentuk kuadran.sel kudran membealah secara transpersal membentuk 8 sel dan disebut oktan ynag tersusun dalam deret. Setiap deretan oktan membelah secara periklin membentuk protoderm dan sel dalam yang mengalami penebalan dan difirensiasi . 

2. Embrio Monokotil 

Pada pembelahan pertama embrio dikotil dan monokotil tidak ada perbedaan yang penting. Namun, pada tahap-tahap perkembangan berikutnya terdapat perbedaan yang jelas. Pada embrio masak hampir semua dikotil,ujung pucuk terdapat di antara dasar dua kotiledon tunggal. 

contoh : perkembangan embrio monokotil poa annua (Gramineae). Menurut Soueges (1924) dan maheswari (1950) , pada poa annua,sel basal mebelah secara tranversal menjadi sel n dan sel n’. sementar sel terminal membelah secara longitudinal menjadi sel m,sel n yang sekat mikropil kemudian membelah secara transfersal dan pada sel o dan p. semua sel yang termasuk kuadran (q) membelah secara longitudinal atau diagonal.kotiledon berkembang dari deretan sel-sel kuadran (q),hipokotil dan ujuung pucuk dari m,muda akar dari n,tudung akar dari o,dan suspensor dari p. 

C. Embriogenesis Somatik 

Embriogenesis somatik menyerupai embrio yang berasal dari sel zigot. Tahap pertama dalam terbentuknya embrio somatik yaitu pembelahan sel tunggal secara terus-menerus sehingga terbentuk kumpulan sel, kemudian kumpulan sel tersebut berkembang ketahap pembentukan proembrio globular lalu tahap jantung, dan terakhir tahap torpedo. Embrio somatik pada tahap torpedo akan berkembang menjadi tanaman muda (Dodds dan Roberts, 2002).

Embrio somatik dapat terbentuk secara langsung atau tidak langsung. Embriogenesis somatik secara tidak langsung dimulai dengan pembelahan sel Secara terus-menerus menjadi kalus. Kalus adalah suatu kumpulan sel amorphous yang terjadi dari sel-sel jaringan yang membelah secara terus-menerus (Gunawan, 1992). Kalus biasanya terbentuk setelah eksplan dikulturkan dalam media yang mengandung auksin. 

Banyak faktor yang mempengaruhi embriogenesis antara lain auksin eksogen, sumber eksplan, komposisi nitrogen yang ditambahkan dalam media dan korbohidrat (sukrosa). Selanjutnya sel membelah terus hingga memasuki tahap globular. Pada tahap globular sel aktif membelah ke segala arah dan membentuk lapisan terluar yang akan menjadi protoderm (bakal epidermis). Kelompok sel yang merupakan prekursor jaringan dasar dan jaringan pembuluh pun mulai terbentuk.

Pembelahan sel ke segala arah akan terhenti ketika primordial kotiledon terbentuk, yaitu pada saat embrio matang sudah autotrof. Embrio matang akan berkecambah dan tumbuh menjadi tumbuhan baru pada kondisi yang cocok (Bajaj, 1994; Dodeman et al., 1997; Litz, 1985). Proses pembentukan dan 

Perkembangan embrio (embriogenesis) menentukan pola pertumbuhan, yaitu meristem pucuk ke atas, meristem akar ke bawah, dan pola-pola dasar jaringan lainnya berkembang pada aksis pucuk akar ini, namun terdapat variasi proses embriogenesis pada setiap tumbuhan(George danSherington, 1984).

Abidin (1983)danWattimena(1988) menyatakan bahwasitokinin adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang memiliki peranan dalamproses pembelahan sel. Selanjutnya Wattimena (1988) menambahkan bahwabeberapa efek fisiologis dari sitokinin adalah mendorong pembelahan sel,mempengaruhi perkembangan embrio, memperlambat proses penghancuran butirbutirklorofil, memperlambat proses senesen pada daun, buah dan organ-organlainnya. 

Menurut Hennen (1983), sitokinin yang biasanya digunakan dalam kulturjaringan tanaman dalam konsentrasi yang bervariasi yaitu kinetin, zeatin,BAP/BA dan Thidiazuron. Embrio somatik dapat diinisiasi dari jaringan juvenil atau jaringanmeristematik. Eksplan yang dapat digunakan dapat berupa daun muda, ujungtunas, kotiledon, dan hipokotil, tetapi respon eksplan sangat bergantung darigenotipe tanaman. 

Pada beberapa spesies tanaman hanya jaringan tertentu yangdapat digunakan untuk inisiasi embrio somatik (Gray, 2000).Penggunaan eksplan yang bersifat meristematik umumnya memberikankeberhasilan pembentukan embrio somatik yang lebih tinggi (Purnamaningsih,2002). 

Oridate dan Oosawa (1986) melaporkan embrio somatik berhasil diinduksidari eksplan yang berasal dari kotiledon pada tanaman melon. Hal yang sama jugadilaporkan oleh Tabei et al. (1991) yang berhasil menginduksi embrio somatikmelon dengan menggunakan eksplan yang berasal dari kotiledon biji tua,kotiledon dan hipokotil dari biji yang dikecambahkan, dan daun serta petiol dariplanlet muda. 

Pada tanaman yang segenus yaitu mentimun (Cucumis sativus L.)penelitian mengenai organogenesis dan embriogenesis telah berhasil dilakukan.Sumber eksplan yang digunakan dalam menginduksi embrio somatik yaitudan hipokotil dari biji yang dikecambahkan secara in vitro (Chee, 1990). 

Hal yang sama juga dilaporkan oleh Ladyman dan Girard (1992), yang berhasil menginduksi embrio somatik dengan menggunakan eksplan kotiledon dari bijiyang dikecambahkan secara in vitro. Hasil penelitian Kuijpers et al. (1996) diBelanda, berhasil menginduksi embrio somatik pada tanaman mentimun denganmenggunakan eksplan daun muda dari biji yang dikecambahkan secara in vitro. 

Pembentukan Embrio Ada Dua Cara

Terbentuknya embrio ini dapat melalui 2 cara. 
1. Cara yang kurang umum disebut poliembrioni sederhana, terjadi ketika 2 atau lebih zigot tumbuh menjadi embrio.
2. Cara yang lebih umum yaitu embrio yang banyak berasal dari embrio tunggal yang terdeferensiasi menjadi lebih dari 1 embrio. Mekanisme ini disebut dengan poliembrioni sigaran dan menghasilkan embrio klonal. Tahap awal perkembangan embrio pada gymnosperma dicirikan dengan pembelahan inti bebas dari inti zigot (kecuali mungkin pada beberapa gnetofit). Embrio berinti bebas terdiri dari sebanyak 4 inti pada Pinus dan 256 inti pada cycad. Sekali gametofit jadi seluler, sel dekat mikropil ujung embrio memanjang menjadi sel suspensor pada semua divisi kecuali Ginkgophyta.

BAB III
PENUTUP 

A. Simpulan

Tahap perkembangan mahluk hidup didahului dengan adanya fertilisasi, embrio akan tumbuh menjadi tumbuhan baru,embrio didaam biji telah memperlihatkan ketiga bagian utama tubuh tumbuhan seperti radicula,cotyledon,cauliculus. Batang lembaga (cauliculuc) dan calon-calon daun merupakan bagian lembaga yang dinamakan pucuk lembaga (plumula),dann cotyledon. 

Pad biji salah satu cirri yang penting dalam mengadakan penggolongan seperti tumbuhan yanga mempunyai monocotyledon,dan dicotiledon. Perkembangan selmsel didalam embrio diiringi dengan pertumbuhan dan pakuolasi. Prose pembentukan dan perkembangan embrio,menentukan pola pertumbuhan, yaitu meristem pucuk keatas,meristem akar kebawah dan pola-pola dasar lainnya dan pembentukan embrio melalui tahap yang kurang umum dan dan cara yang lebih umum. 

B. Saran

Galilah ilmu ALLAH yang begitu banyak dan sangat bermanfaat bagi kita karena sesuatu yang kita anggap kecil atau sedikit jika kita telusuri maka itu bisa menjadi sesuatu hal yang sangat banyak dan memiliki manfaat yang sangat besar, meliki contohnya seperti embrio yang begitu kecil mampu melakukan fertelisasi,atau pembuahan ,seperti tumbuhaan yang besar lainnya..hal diatas sesuai dengan firman-NYA yaitu;segala sesuatu itu pasti ada manfaat 

DAFTAR PUSTAKA 

Ø Gembong, Morfologi tumbuhan.Gadjah mada university press.2005
Ø Http:// www.waspada.co.id . pho? Option = com_conten & id = 178348 


Terimakasih telah membaca artikel Embrio Pada Tumbuhan,semoga bermanfaat!

Poskan Komentar

Berlangganan FEED via email

Blog Stats

Embrio Pada Tumbuhan

Copyright  © File Skripsi - All Right Reserved. | Theme designed by File Skripsi